Pendidikan
Bermutu Anti Tesis Keterpurukan
Jika kita diminta untuk menjawab pertanyaan,
"Apa prestasi yang kita banggakan sebagai bangsa Indonesia?".
Mungkin kita akan merenung lama untuk mendapatkan jawaban. Pada kasus-kasus
unik, memang ada yang kita banggakan, misalnya prestasi siswa untuk beberapa
cabang mata pelajaran di olimpiade, prestasi cabang olah raga tertentu,
dll (Danim,2010:23). Namun bila dilihat dari dari komparasi internasional,
seperti yang dikemukakan oleh Prof. Sudarwan Danim dalam bukunya Otonomi
Manajemen Sekolah (OMS) (2010), menjelaskan bahwa negara kita dari komparasi
internasional baik dari daya saing ekonomi, indeks kekompetitifan usaha, daya
saing produksi, indeks SDM, prestasi belajar, tingkat literasi, daya tarik
terhadap iptek, riset dasar, tenaga peneliti, pendapatan per kapita, pengembangan dan aplikasi teknologi,
implementasi teknoinformasi, akses
pemanfaatan internet, kemampuan berkomunikasi, kinerja birokrasi, mutu
layanan umum serta proteksi paten dan hak cipta, posisi kita sangat
rendah.
Mengapa kita masih seperti ini?, penyebabnya
minimal ada delapan yaitu; 1. Pengedepanan politik dan kekuasaan sebagai
panglima cenderung masih menggurita dan memberi tekanan kuat bagi pelumpuhan
dunia akademik dan kehidupan masyarakat ilmiah, lebih-lebih diera otonomi yang
masih mencari format yang lebih jelas; 2. Orang-orang yang cerdas di sekitar
kita memang makin banyak, namun tidak sejalan dengan pertambahan orang-orang
yang beritikad baik; 3. Orang-orang cerdas untuk sebagian belum menggunakan
kecerdasannya untuk kemaslahatan umat
dan pembangunan, melainkan banyak
diantaranya justru memberdaya
orang-orang yang substandard secara intelektual dan keterampilan; 4.
Jumlah populasi yang berpendidikan
menengah keatas masih relative rendah, bahkan buta huruf masih ada; 5. Angka
kemiskinan yang masih tinggi; 6. Ketergantungan pada bantuan asing masih
tinggi; 7. Kinerja birokrasi dan pelaku
politik yang masih tergolong rendah; 8. Kinerja guru belum optimum.
Lantas apa yang seharusnya dilakukan untuk
merubah wajah negeri ini agar tampak seperti pangeran yang tampan, yang
berwibawa, yang disegani karena power yang dimiliki yang mampu mesejahterakan
kedalam negerinya dan meninggikan posisi tawar negaranya ke luar negeri. Jalan yang paling jitu tiada
lain adalah pendidikan, mengapa dalam sejarah misalnya pada saat runtuhnya
Jepang karena bom atom pada tahun 1945, kaisar Jepang Akihito yang
dia tanyakan pertama adalah berapa jumlah guru yang masih tersisa artinya
dengan jumlah guru yang masih ada tersebut maka pendidikan masih bisa
dijalankan untuk membangun kembali Jepang yang telah hancur pada waktu itu.
Fakta lain yang tidak terbantahkan kebenarannya adalah dalam Al – Quran bagi
yang beragama Islam semua tahu bahwa saat pertama kali Rasulullah Muhammad.
SAW, menerima wahyu adalah perintah untuk membaca (Iqro), kemudian pendapat
para ahli seperti P.J.Hill, yang memahami pendidikan sebagai proses belajar
yang ditujukan untuk membangun manusia
dengan pengetahuan dan keterampilan (Tilaar,2009:40). Sangking urgennya
pendidikan ini sehingga negara-negara didunia menaruh harapan besar terhadapnya,
sehingga salah satu badan dunia (UNESCO) dalam laporan merilis bahwa pendidikan
masa depan berlandaskan 4 pilar
pendidikan yaitu; (1). Learning to know
(belajar mengetahui); (2). Learning to do (belajar berbuat); 3. learning to be
( belajar mejadi diri sendiri); 4. learning to live together (belajar hidup
bersama). (UNESCO,1996:85-97)
Dengan dasar tersebut seyogya negara-negara di
dunia khususnya negara berkembang seperti negara kita, benar-benar komitmen
dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu.
Adapun langkah langkah yang harus dilakukan untuk
mewujudkan pendidikan yang bermutu ini adalah :
1. Jadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran yang menyenangkan
yang dapat menjadikan sekolah sebagai tempat
Fun and Discovery learning.
2. Untuk menjadikan sekolah sebagai tempat Fun and Discovery learning maka harus
ada dukungan kebijakan dan pendanaan.
3. Untuk kebijakan pendanaan jika pemerintah belum mampu
maka program sharing budget dengan masyarakat sangat dimungkinkan, dengan
catatan ada jaminan akuntabilitas program dari pihak sekolah, namun ini dapat
terlaksana jika ada kebijakan yang mengatur, bukan kebijakan gratis yang
dipkasakan meskipun pendanaan tidak cukup, sehinga memaksa pihak sekolah untuk
menelan aja hal ini karena adanya
keterpaksaan saja. Pada prinsipnya orang tua menginginkan anaknya disekolah
disekolah yang bermutu oleh karena itu
keterbukaan dan sharing sekolah, orangtua dan pemerintah serta pihak ketiga
sangat diharapkan dan ini sekali lagi dapat terlaksana jika pemerintah mau
mengaturnya
4. Sekolah harus mampu mengitegrasikan keterampilan yang
harus dimilki oleh siswa pada abad 21 yang terkenal dengan persaingan yang
ketat ini yaitu; keterampilan berpikir kritis, inovasi, penguasaan teknologi
dan informasi, keterampilan membangun
networking serta dukungan bahasa asing terutama bahasa internasional
(Bahasa Inggris), dalam kebijakan maupun dalam kurikulumnya.
5. Guru
harus mampu menciptakan pembelajaran yang berbasis keterampilan abad 21 dalam
hal ini berbasis IT, serta selalu inovatif dan mau belajar secara terus
menerus. Seperti yang disampaikan oleh Atase Pendidikan Indonesia di Beijing dalam salah satu sesi paralel
konferensi yang bertema Quality of Asian Teachers in Promoting Lifelong
Professional Development of Asian Teachers, Chaerun Anwar, menyampaikan
makalahnya yang berjudul Indonesia Initiative of The Establishment of
Regional Center for Teachers Training in Southeast Asia. Chaerun
Anwar memaparkan, guru merupakan elemen terpenting dalam peningkatan
kualitas lulusan sebuah lembaga pendidikan. Pendidikan dan peningkatan
kompetensi guru tidak boleh berhenti begitu guru menyelesaikan pendidikannya di
perguruan tinggi. Harus ada upaya terus menerus mendidik dan melatih guru
sesuai kualifikasi yang dikuasainya untuk meningkatkan kompentensinya sesuai
perkembangan jaman agar kualitas lulusan sekolah dapat berkompetisi dengan
lulusan dari negara lain. http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/713
6. Sekolah
dapat menciptakan budaya mutu sehingga yang mengemuka dalam setiap aktivitas
guru dan staf administrasi sekolah serta siswa-siswanya adalah pengembangan
diri dan organisasi sekolah mereka.
7. Untuk menciptakan budaya mutu maka sekolah dapat
mengawalinya dengan sharing knowledge atau berbagi pengetahuan antar sesame
guru atau dengan administrasi sekolah setelah itu dapat di tingkatkan ke
berbagai pihak yang berhubungan dengan dunia pendidikan.
8. Dukungan kepala sekolah yang bersifat terbuka dan mau
menjadikan sekolah sebagai learning communities sangat dibutuhkan, ini dapat
terjadi jika aturan tentang tugas tambahan tentang kepala sekolah ini
diperbaharui terutama persyaratan dan kualifikasi serta masa jabatannya.
9. Menciptakan jalinan kerjasama dengan berbagai pihak yang
berhubungan dengan dunia pendidikan yang dilandasi keterbukaan, akuntabilitas
serta program berkelanjutan, maka
sekolah sebagai pilar pendidikan dapat
berdaya, dengan berdayanya sekolah maka pendidikan pun akan berdaya.
Referensi
Danim. Sudarwan. Prof. 2010.
Otonomi Manajemen Sekolah. Bandung. Afabeta.
Tilaar. H.A.R.Prof &
Nugroho. Rian Dr. 2009. Kebijakan Pendidikan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
UNESCO.
1996. Report to UNESCO of the International Commission on Education for the
Twenty-first Century The members of the Commission are responsible for the
choice and the presentation of the facts contained in this book and for the
opinions expressed therein, which are not necessarily those of UNESCO and do
not commit the Organization. Published in 1996 by the United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization 7, place de Fontenoy, 75352
Paris 07 SP, Vendôme ISBN 92-3-103274-7 (UNESCO) ISBN 0-11-984387-0 (HMSO) ©
UNESCO 1996France Graphic design by Jean-Francis Chériez Composition and page
make-up by Susanne Almeida-Klein Printed by Presses Universitaires de France:
Jaques Delor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar