Menjadi Guru Era Baru Dengan "Batunet"

Selasa, 04 Desember 2012

Pembaharuan Pendidikan


Pendidikan  Bermutu Anti Tesis Keterpurukan

Jika kita diminta untuk menjawab pertanyaan, "Apa prestasi  yang kita banggakan sebagai bangsa Indonesia?". Mungkin kita akan merenung lama untuk mendapatkan jawaban. Pada kasus-kasus unik, memang ada yang kita banggakan, misalnya prestasi siswa untuk beberapa cabang  mata pelajaran di olimpiade, prestasi cabang olah raga tertentu, dll (Danim,2010:23). Namun bila dilihat dari dari komparasi internasional, seperti yang dikemukakan oleh Prof. Sudarwan Danim dalam bukunya Otonomi Manajemen Sekolah (OMS) (2010), menjelaskan bahwa negara kita dari komparasi internasional baik dari daya saing ekonomi, indeks kekompetitifan usaha, daya saing produksi, indeks SDM, prestasi belajar, tingkat literasi, daya tarik terhadap iptek, riset dasar, tenaga peneliti, pendapatan per kapita,  pengembangan dan aplikasi teknologi, implementasi teknoinformasi,  akses pemanfaatan internet, kemampuan berkomunikasi, kinerja birokrasi, mutu layanan  umum serta proteksi  paten dan hak cipta, posisi kita sangat rendah.
Mengapa kita masih seperti ini?, penyebabnya minimal ada delapan yaitu; 1. Pengedepanan politik dan kekuasaan sebagai panglima  cenderung masih menggurita  dan memberi tekanan kuat bagi pelumpuhan dunia akademik dan kehidupan masyarakat ilmiah, lebih-lebih diera otonomi yang masih mencari format yang lebih jelas; 2. Orang-orang yang cerdas di sekitar kita memang makin banyak, namun tidak sejalan dengan pertambahan orang-orang yang beritikad baik; 3. Orang-orang cerdas untuk sebagian belum menggunakan kecerdasannya  untuk kemaslahatan umat dan pembangunan, melainkan banyak  diantaranya justru memberdaya  orang-orang yang substandard secara intelektual dan keterampilan; 4. Jumlah populasi  yang berpendidikan menengah keatas masih relative rendah, bahkan buta huruf masih ada; 5. Angka kemiskinan yang masih tinggi; 6. Ketergantungan pada bantuan asing masih tinggi; 7. Kinerja birokrasi dan  pelaku politik yang masih tergolong rendah; 8. Kinerja guru belum optimum.
Lantas apa yang seharusnya dilakukan untuk merubah wajah negeri ini agar tampak seperti pangeran yang tampan, yang berwibawa, yang disegani karena power yang dimiliki yang mampu mesejahterakan kedalam negerinya dan meninggikan posisi tawar negaranya  ke luar negeri. Jalan yang paling jitu tiada lain adalah pendidikan, mengapa dalam sejarah misalnya pada saat runtuhnya Jepang karena bom  atom  pada tahun 1945, kaisar Jepang Akihito yang dia tanyakan pertama adalah berapa jumlah guru yang masih tersisa artinya dengan jumlah guru yang masih ada tersebut maka pendidikan masih bisa dijalankan untuk membangun kembali Jepang yang telah hancur pada waktu itu. Fakta lain yang tidak terbantahkan kebenarannya adalah dalam Al – Quran bagi yang beragama Islam semua tahu bahwa saat pertama kali Rasulullah Muhammad. SAW, menerima wahyu adalah perintah untuk membaca (Iqro), kemudian pendapat para ahli seperti P.J.Hill, yang memahami pendidikan sebagai proses belajar yang ditujukan  untuk membangun  manusia  dengan pengetahuan dan keterampilan (Tilaar,2009:40). Sangking urgennya pendidikan ini sehingga negara-negara didunia menaruh harapan besar terhadapnya, sehingga salah satu badan dunia (UNESCO) dalam laporan merilis bahwa pendidikan masa depan  berlandaskan 4 pilar pendidikan yaitu;  (1). Learning to know (belajar mengetahui); (2). Learning to do (belajar berbuat); 3. learning to be ( belajar mejadi diri sendiri); 4. learning to live together (belajar hidup bersama). (UNESCO,1996:85-97)
Dengan dasar tersebut seyogya negara-negara di dunia khususnya negara berkembang seperti negara kita, benar-benar komitmen dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu.
Adapun langkah langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu ini adalah :
1.  Jadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran yang menyenangkan yang dapat menjadikan sekolah sebagai tempat  Fun and Discovery learning.
2.   Untuk menjadikan sekolah sebagai tempat Fun and Discovery learning maka harus ada dukungan kebijakan dan pendanaan.
3.  Untuk kebijakan pendanaan jika pemerintah belum mampu maka program sharing budget dengan masyarakat sangat dimungkinkan, dengan catatan ada jaminan akuntabilitas program dari pihak sekolah, namun ini dapat terlaksana jika ada kebijakan yang mengatur, bukan kebijakan gratis yang dipkasakan meskipun pendanaan tidak cukup, sehinga memaksa pihak sekolah untuk menelan aja hal ini   karena adanya keterpaksaan saja. Pada prinsipnya orang tua menginginkan anaknya disekolah disekolah  yang bermutu oleh karena itu keterbukaan dan sharing sekolah, orangtua dan pemerintah serta pihak ketiga sangat diharapkan dan ini sekali lagi dapat terlaksana jika pemerintah mau mengaturnya
4.     Sekolah harus mampu mengitegrasikan keterampilan yang harus dimilki oleh siswa pada abad 21 yang terkenal dengan persaingan yang ketat ini yaitu; keterampilan berpikir kritis, inovasi, penguasaan teknologi dan informasi, keterampilan membangun networking serta dukungan bahasa asing terutama bahasa internasional (Bahasa Inggris), dalam kebijakan maupun dalam kurikulumnya.
5.  Guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang berbasis keterampilan abad 21 dalam hal ini berbasis IT, serta selalu inovatif dan mau belajar secara terus menerus. Seperti yang disampaikan oleh Atase Pendidikan Indonesia  di Beijing dalam salah satu sesi paralel konferensi yang bertema Quality of Asian Teachers in Promoting Lifelong Professional Development of Asian Teachers, Chaerun Anwar, menyampaikan makalahnya yang berjudul Indonesia Initiative of The Establishment of Regional Center for Teachers Training in Southeast Asia. Chaerun Anwar  memaparkan, guru merupakan elemen terpenting dalam peningkatan kualitas lulusan sebuah lembaga pendidikan. Pendidikan dan peningkatan kompetensi guru tidak boleh berhenti begitu guru menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Harus ada upaya terus menerus mendidik dan melatih guru sesuai kualifikasi yang dikuasainya untuk meningkatkan kompentensinya sesuai perkembangan jaman agar kualitas lulusan sekolah dapat berkompetisi dengan lulusan dari negara lain. http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/713

6.    Sekolah dapat menciptakan budaya mutu sehingga yang mengemuka dalam setiap aktivitas guru dan staf administrasi sekolah serta siswa-siswanya adalah pengembangan diri dan organisasi sekolah mereka.
7.   Untuk menciptakan budaya mutu maka sekolah dapat mengawalinya dengan sharing knowledge atau berbagi pengetahuan antar sesame guru atau dengan administrasi sekolah setelah itu dapat di tingkatkan ke berbagai pihak yang berhubungan dengan dunia pendidikan.
8.  Dukungan kepala sekolah yang bersifat terbuka dan mau menjadikan sekolah sebagai learning communities sangat dibutuhkan, ini dapat terjadi jika aturan tentang tugas tambahan tentang kepala sekolah ini diperbaharui terutama persyaratan dan kualifikasi serta masa jabatannya.
9.   Menciptakan jalinan  kerjasama dengan berbagai pihak yang berhubungan dengan dunia pendidikan yang dilandasi keterbukaan, akuntabilitas serta program berkelanjutan,  maka sekolah sebagai pilar pendidikan dapat  berdaya, dengan berdayanya sekolah maka pendidikan pun akan berdaya.

Referensi
Danim. Sudarwan. Prof. 2010. Otonomi Manajemen Sekolah. Bandung. Afabeta.
Tilaar. H.A.R.Prof & Nugroho. Rian Dr. 2009. Kebijakan Pendidikan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
UNESCO. 1996. Report to UNESCO of the International Commission on Education for the Twenty-first Century The members of the Commission are responsible for the choice and the presentation of the facts contained in this book and for the opinions expressed therein, which are not necessarily those of UNESCO and do not commit the Organization. Published in 1996 by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization 7, place de Fontenoy, 75352 Paris 07 SP, Vendôme ISBN 92-3-103274-7 (UNESCO) ISBN 0-11-984387-0 (HMSO) © UNESCO 1996France Graphic design by Jean-Francis Chériez Composition and page make-up by Susanne Almeida-Klein Printed by Presses Universitaires de France: Jaques Delor.

Tidak ada komentar: