Menjadi Guru Era Baru Dengan "Batunet"

Selasa, 04 Desember 2012

Review MBS


Manajemen Berbasis Sekolah
Mengorganisir untuk Meningkatkan  Performance

  An Overview Rodney T. Ogawa Pauk A. White
Jossey-Bass Publishers San Francisco


School Based Manajemen (SBM) atau di Indonesia dikenal dengan istilah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah merupakan  salah satu bentuk restrukturisasi yang telah mendapatkan perhatian luas. Seperti halnya di dunia bisnis, ada  usaha untuk mengubah sistem sekolah dalam melakukan pengelolaannya. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan kinerja akademik sekolah dengan mengubah desain organisasinya.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) oleh Malen, Ogawa, dan Kranz (1990,p.290) setelah memperhatikan beberapa ambiguitas dari keberagaman defenisi, memberikan gambaran bahwa  MBS “Sekolah berbasis manajemen” dapat dilihat secara konseptual sebagai perubahan formal struktur pemerintahan, sebagai bentuk desentralisasi yang mengidentifikasi sekolah sebagai unit utama untuk meningkatkan kewenangan dan bertumpu pada redistribusi kewenangan pengambilan keputusan  sebagai sarana utama melalui rangsangan  dan perbaikan yang  berkelanjutan..
Perspektif MBS dalam tulisan Rodney T. Ogawa Pauk A. White ini sebagian besar didasarkan pada kerangka kerja manajemen partisipatif yang dikembangkan oleh Lawler (1986) dan diperluas oleh Mohrman, Lawler, dan Mohrman (1992),  penelitian ini muncul dari pengalaman yang luas dalam pengaturan perusahaan. Mohrman dan Lawler menyatakan  bahwa untuk meningkatkan peran organisasi (sekolah) dalam sistem manajemen partisipatif  terdapat  5 point  yang harus dilimpahkan; (1) Desentralisasi Kekuasaan,  Dalam MBS  unsur partisipatif sangat diutamakan,  dalam manajmen partisipatif harus  bertumpu pada asumsi bahwa ditingkat sekolah sebagai posisi pelaksana yang lebih baik daripada pejabat kabupaten yang  membuat keputusan untuk sekolah mereka (Northwest Area Foundation, 1985, Hill dan Bonan, 1991). Menurut penalaran ini, guru, kepala sekolah, dan orang tua lebih memahami kebutuhan siswa dan masyarakat yang dilayani oleh sekolah mereka. (2) Desentralisasi Informasi, elemen kedua dari manajemen partisipatif, memiliki dua dimensi: aliran dan jenis informasi yang mengalir dari bawah keatas (button- up)  bukan monoton dari top – down; (3) Desentralisasi Rewards (Penghargaan), yang merupakan unsur ketiga  manajemen  partisipatif pengambilan keputusan. Dua jenis penghargaan umumnya diakui dalam literatur perilaku organizationai: ekstrinsik, atau extemal, penghargaan (kompensasi finansial, pujian, dan penghargaan) dan intrinsik, atau internal, penghargaan (orang-orang yang berasal dari pekerjaan itu sendiri)  Penghargaan di dalam  organisasi merupakan hal  penting, terutama di mana praktek-praktek manajemen partisipatif bekerja untuk meningkatkan motivasi anggotannya; (4) Desentralisasi Pengetahuan dan Keterampilan, dengan desentralisasi  pengetahuan dan keterampilan, guru dan administrator berbagi pengetahuan dan keterampilan pada strategi instruksi baru, pada perencanaan dan pengorganisasian pertemuan, dalam tujuan sekolah berkembang, dan dalam merancang staf pengem-bangan rencana (David, 1989a, Wohlstetter dan Odden, 1992); (5) Sejauh mana Organisasi  Terlibat Mohrman dan rekan menunjukkan bahwa Sistem manajemen bersama ini lebih mungkin berhasil jika sebagian besar dari organisasi adalah terlibat.

Tidak ada komentar: