Menjadi Guru Era Baru Dengan "Batunet"

Sabtu, 29 Desember 2012


Era Turbulensi: Apa dan Bagaimana seharusnya Sekolah

Indonesia saat ini mempunyai bonus demografi yang luar biasa, yaitu jumlah penduduk yang mencapai 245 jut jiwa  dan diperkirakan 2025 akan mencapai kisaran 300 juta jiwa.  Bonus demigrafi ini seharusnya dapat membawa Indonesia negara kita tercinta ini untuk meraih keunggulan dari sumber daya manusia yang dimiliki saat ini untuk dapat bersaing dalam era kekuatan ekonomi abad 21, mengapa tidak karena negara kita saat ini sebenarnya mempunyai  100 - 150 penduduk muda  yang produktif.

Tabel Penduduk Indonesia
Sumber: Persentase Elslee Y.A. sheyoputri, Mantan Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Malaysia.

Pertanyaan yang kemudian muncul dibenak kita masing-masing adalah, apakah kita sudah berdaya, jawabannya pasti masih ragu-ragu untuk mengatakan ia atas permasalahan yang satu ini yaitu keberdayaan bangsa kita apalagi terhadap bangsa lain di dunia. Khusus dikawasan Asia Tenggara saja negara kita merupakan negara yang terpadat kedua penduduknya setelah Philipina.

Tabel Penduduk Sebahagian Negara-Negara  Asia Tenggara

Sumber : http://www.scribd.com/doc/80545201/Asia-Tenggara

Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena kita terlena dengan alam kita yang mampu menyediakan segalanya, seperti nyanyian dari Koes Plus “Tongkat dan batu jadi tanaman” atau kita beranggapan bahwa negara  kita bagai kolam susu, karena susunya sudah mulai habis, sehingga biar berutang asal minum susu. Artinya negara kita saat ini, negara kita masih senang dengan utang, bukan kemampuan sendiri yang diupayakan, disamping itu pemerintah kita masih bangga dengan eksplotasi sumber daya alam.
Kebanggaan terhadap  sumber daya alam  yang melimpah itu sekarang harus dirubah paradigmanya menjadi  kunggulan berbasis kreativitas yang disupport oleh sumber daya manusia. Perlu kita ingat, bahwa  mereka negara maju  lebih dulu menikmati apa yang dinamakan eksploitasi sumberdaya alam. Jadi seharusnya kita arif dan bijaksana untuk tidak membiarkan sumber daya alam kita dikuras tanpa batas. Mengapa kita membiarkan eksploitasi itu terjadi, mengapa kita tidak mampu mengelolanya sendiri, semua itu salah siapa?
Saya berpikir bahwa semua itu berawal dari kita  bangsa Indonesia yang menggap pendidikan  sebagai pembentuk  sumber daya yang bermutu, bukan merupakan yang utama tapi nomor yang kesekian serta  tidak jelas model desain jangka panjangnya.
Di era yang penuh turbulensi ini seharusnya kita mulai menyadari, apa dan bagaimana anak cucu kita persiapkan dengan merubah mind set bahwa  investasi dibidang pendidikan sebagai upaya pembentukan sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang yang berdampak besar terhadap pembentukan keunggulan kompetitif bangsa. Bukan seperti mind set pada era otonomi saat ini, oleh sebagian bupati/ wali kota memandang investasi SDM bukan merupakan kebijakan yang populer sehingga pembangunan lebih condong pada pengembagan infrastruktur semata yang tidak berimbang dengan pengembangan SDM untuk jangka panjang.

Oleh karena itu  Sekolah sebagai media pendidikan yang masih dipercaya oleh masyarakat bisa jadi nanti akan berubah peran dan ditinggalkan oleh masyarakat  seperti yang dikemukakan oleh Profesor Howard Gardner, yang mengatakan bahwa :
     We have got  to do a lot fewer  things in school. The greatest  enemy of understanding is coverage. As long as you are  determined to cover everything  you actually  ensure thet most  kids  are not  going to understand. You have got to take  enough  time to get kids involved  in something  so they can  think obout it  in lots of different ways  and apply  not just in school  but at home and on the  street  and so on. (Greany & Rodd, 2004: 35).
Hal tersebut sangat memungkinkan terjadi, apabila sekolah sebagai institusi formal yang di percaya pemerintah tidak mampu memjawab permintaan pasar dalam menyediakan  sumber daya manusia  yang berkualitas, sesuai  atau bahkan melebihi  standar pendidikan yang telah ditetapkan.
Agar sekolah tetap eksis dalam perannya sebagai pencetak sumber daya yang berkualitas, sekolah harus benar-benar mampu merubah diri  dengan mewujudkan sekolah sebagai “learning to learn” agar mampu menjawab turbulensi yang menghadang anak-anak kita sekaran dan masa yang akan datang (Greany & Rodd, 2004: 39).  Lebih lanjut Greany & Rodd menjelaskan bahwa dengan berkembangnya sekolah sebagai learning to learn dapat mengantarkan sekolah pada proses tranformasi yang berdampak pada penigkatan pencapaian standar, peningkatan moral  dan motivasi guru, yang tidak kalah pentingnya adalah menjadikan sekolah lebih efektif, termasuk  peningkatan motivasi siswa.
Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, selain paradigma sekolah saat ini harus mulai berubah, agar sekolah mampu mempersiapkan peserta didiknya untuk bersaing di era penuh  turbulensi “21 century” ini. Momentum perubahan kurikulum 2013, seharusnya dapat menghadirkan keterampilan dan keahlian abad 21 seperti berikut.
Gambar: Ilustrasi persiapan  siswa abad 21
Sumber : Persentase Elslee Y.A. sheyoputri, Mantan Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Malaysia

Dari illustrasi di atas, bahwa sekolah seharusnya mampu memahami perkembangan dunia, sehingga sekolah dengan segera mampu menyesuaikan diri atas apa yang dibutuhkan  peserta didik untuk dapat bersaing. Persiapan pertama “helmet (information filter)”adalah  persiapan ini harus dilakukan disekolah dan kerjasama dengan orang tua untuk pengembangan pembinaan lebih lanjut, oleh karena itu sekolah dan  komite sekolah harus bersinerji untuk membuat program dalam  pembinaan serta pemantauan aktivitas berkelanjutan terhadap peserta didik sehingga pembinaan disekolah tidak terkesan terputus, dengan demikian  filterisasi  informasi akan terbagun  sebagai penyaring  sebelum mereka meniru suatu informasi  sebagai gaya hidup,  yang kedua pakaian” clothes (self-protection)” dalam konteks ini, meski zaman berada pada era kebebasan, tapi budaya harus tetap dipengang teguh untuk membendung pengaruh negative yang masuk  berlebihan dalam diri anak-anak kita, berikutnya yang ketiga “life jacket (soft skills)” yang tidak kalah pentingnya yang harus dipersiapkan jika benar-benar terjadi  turbulensi, agar anak-anak kita tidak hanyut, dan meski mereka juga terkena dampak dan mereka juga ikut hanyut akan tetapi mereka akan segera bangkit karena dorongan keahlian yang dimiliki. Persiapan yang keempat adalah  “watch (awareness of time)” agar anak-anak kita tidak terpuruk selamanya, anak-anak kita juga harus kita bekali mereka dengan budaya tertib dan tepat waktu  sebagai persiapan yang kelima.
Kemampuan tepat waktu tersebut akan sangat mendukung  keterampilan  berikutnya yaitu networking yang dalam gambar di atas di simbolkan dengan  “Flip line” sebagai persiapan yang keenam. Persiapan ketujuh adalah “paddle (technical skill)” sekolah juga harus menyiapkan   kemampuan komunikasi, oleh karena itu sekolah harus membangun kemampuan berbahasa bagi  peserta didiknya terutama bahasa asing, sebagai komponen yang terakhir adalah shoe (self-control), untuk pengendalian diri  karena saat ini sukar rasanya untuk mengontrol anak-anak kita, oleh karena itu bekal agama dan kasih sayang serta rasa percaya kepada anak harus dibangun sejak dini.
Gagasan diatas senada dengan apa yang dikemukakan oleh Wagner (2008) yang melaporkan bahwa:
that 21st century skills will not only be essential in order for our students to compete in a global economy, but they will also be critical survival skills in the future. They are:
• Critical Thinking and Problem Solving
• Collaboration and Leadership
• Agility and Adaptability
• Initiative and Entrepreneurism
• Effective Oral and Written Communication
• Accessing and Analyzing Information
• Curiosity and Imagination.

Senada dengan pendapat diatas, The Partnership for 21st Century Skills (2004) yaitu suatu organisasi yang memperjuangkan pengembangan keahlian siswa pada abad 21 menyatakan hal yang sama bahwa untuk dapat  membangun dan mengembangkan keahlian di abad 21 maka diperlukan reformasi  kurikulum dengan mencantumkan core subject dari keahlian yang harus dimiliki siswa seperti “Creativity and Innovation; Critical Thinking and Problem Solving; Communication and Collaboration; Information, Media, and Technology Skills; ICT (Information, Communication, and Technology Literacy; and Life and Career skills” (Sonn Sam, 2011: 1)

Jadi saatnya sekolah untuk berbenah agar  anak-anak kita akan menjadi anak Indonesia yang mampu bersaing dan terbang bebas bagai garuda yang mampu mengepakkan sayapnya kemanapun ia mau jika itu baik dan menguntungkan bagi diri, keluarga, bangsa dan  negaranya. 


Referensi :
Greany. Toby & Rodd. Jill. 2004. Creating a Learning to Learn School.  Research and Practice for Raising Standards.Motivation and Morale. CAMPAIGN FOR LEARNING. Australia: Original Published  by Network Education Press  Ltd.
Elslee Y.A. sheyoputri Power point Persentase INDONESIAN SCHOOL
OF KUALA LUMPUR (SIKL) “INSTRUCTIONAL Leadership best practices”
Sonn Sam. 2011. High School Principals’ Rating of Success in Implementation of 21st Century Skills. A Dissertation. Doctoral Program in Educational Leadership of the Requirements for the Degree of Doctor of Education Johnson & Wales University.
UMI 3450048 Copyright 2011 by ProQuest LLC. All rights reserved. This edition of the work is protected against unauthorized copying under Title 17, United States Code.



Senin, 17 Desember 2012

Fiksi


KETIKA “TERANG” LAGI BERSINAR

Terang  seperti anak kebanyakan,  dengan sifat riangnya dengan mudah dapat bergaul dengan siapa saja teman sebanyanya, meski itu  baru pertama kali  kenalan.  Kala itu Terang  baru berusia  6 tahun sudah duduk dibangku sekolah dasar bersama anak saya Rama yang pada waktu itu berumur  5 tahun 9 bulan.
Terang memang tergolong anak yang cerdas karena dia bisa diterima  di Sekolah Dasar meski baru berusai 5 tahun, yang seharusnya anak seusia dia masih berada di Taman Kanak-Kanak. Kehidupan keluarga Terang kurang lebih hamper sama dengan kami, bedanya kedua orang tua Terang  bekerja di perusahaan yang bonafit meski hanya pegawai rendahan, sementara aku  bekerja  sebagai sopir  angkot dengan penghasilan tak menentu.
Kedua orang tuanya  sangat sayang  terhadap  Terang, apapun yang diminta olehnya selalu dibelikan meski itu  dengan utang terlebih dahulu. Rama anak saya selalu berkunjung kerumah Terang, karena tertarik dengan mainan-mainan Terang yang bagus-bagus, pergaulan mereka masih layaknya anak – anak kebanyakan yang penuh keceriaan dan canda tawa, orang tua Terang pun tidak masalah dengan kedatangan Rama dirumah mereka. Disamping karena Rama anaknya juga sopan, Rama juga mau disuruh oleh mereka untuk  membantu  mereka, misal membelikan apa yang mereka butuhkan  di warung tetangga dekat rumah.
Seiring dengan perjalanan waktu, ayah  dan ibu Terang  yang bekerja di perusahaan yang sama, perusahaan mereka membuka cabang, oleh bos mereka menugaskan ayah Terang untuk ikut pindah disana, kebetulan lokasi perusahaannya berbatasan kabupaten dengan tempatnya saat ini, jadi perjalanannya pun masih bisa ditempuh dengan angkutan darat.
Dalam perjalanan karir ayah Terang, cukup cemerlang dan akhirnya ayah Terang pun mendapat promosi jabatan, kabar itu pun langsung tersiar diseluruh penjuru RT 001/RW 03 tempat kami tinggal. Hari demi hari karirnya semakin melejit,  keadaan ekonomi mereka pun semakin membaik, dan  Terang pun semakin manja dengan berbagai fasilitas yang terus diberikan padanya, sehingga terkadang si Rama anak saya bertanya ‘papa mengapa kita tidak seperti mereka ya’. Aku pun hanya mencoba menghibur anak saya Rama “nak kita harus bersyukur masih bisa kita makan, kita kaya seperti  keluarga Terang itu juga ujian, sabar ya nanti kita usaha” tapi dalam hati saya ya usaha apalagi sekolah ngak punya namun harapan itu masih tetap ada.
Gelimang harta yang mereka peroleh ternyata, membuat mereka lupa, akan masa lalu mereka, yang tadinya selalu ramah dengan tetangga jadinya cuek dan terkesan tertutup, tidak mau lagi berbagi seperti dulu masih seperti kami. Rama pun yang berkunjung mulai sering mendapat perlakuan kasar dari  ibu Terang. Mungkin karena sering melihat ibunya mengusir si Rama, Terang pun mulai ikut-ikutan memperlakukan Rama dengan kasarnya sehingga tidak jarang Rama pulang dengan tangisnya yang membuat istri saya  Mala terkadang terbawa emosi ingin marah dan berkelahi dengan orang tua Terang, namun aku selalu menasehati “ anak-anak ko diambil hati” awalnya  istri saya tidak menerima dan terkadang muncul kata-kata hardikan  darinya “ dasar  baru kaya”. Akupun mendengar itu terkadang tersenyum saja, dalam hati berdoa mudah-mudahan istri saya selalu  menyadari hal itu agar tidak terjadi pertengkaran dengan tetangga.
Kehidupan semakin miris dengan rusaknya angkot yang saya bawa, bosku bilang akan dibelikan gantinya namun belum juga ada karena bos saya ternyata lagi terkendala juga dalam masalah keuangan, kerena  istrinya yang suka menghambur-hambur uang dengan foya-foya. Kami pu sekeluarga semakin dihinanya oleh mereka.
Karir ayah Terang semakin gemilang, namun tidak segemilang prestasi anaknya Terang, namun keangkuhanlah yang menghiasi  Terang dan  semakin menjadi-jadi. Perlakuan kasar Terang terhadap Rama pun  bukan hanya dirumah atau dilingkungan kami saja, tapi   juga sampai di sekolahan mereka, karena mereka satu sekolah hanya beda kelas aja kebetulan Rama sekarang sudah mulai berprestasi sehingga duduk dikelas yang lebih unggul dari  Terang, yang terkadang membuat Rama jadi ilfil juga tapi sering kuberi motivasi “ hari ini dia kasari kamu besok setelah kamu jadi orang berhasil belum tentu” kata ku Rama pun sering bertanya oh gitu ya papa, gimana supaya kita bisa jadi orang berhasil, akupun hanya menjawab dengan polosnya “ya   jadi orang baik dan belajar”.
Waktu pun terus berputar,  Terang dan Rama pun  telah berhasil menyelesaikan Ujian Akhir Nasional (UAN), Rama dengan hasil yang sangat memuaskan sedangkan Terang hanya memenuhi standar aja. Alhamdulilah, kata itulah yang terucap dari bibir saya ketika Rama anak saya diterima di sekolah faforit idaman anak saya Rama, namun kegembiraan itu sirna seketika pada saat Rama bilang Terang juga lulus keterima disana, akun heran kok bisa ya. Akupun berusaha menghibur Rama sabar ya orang curang jauh dari kebehasilan, Rama pun bertanya curang gimana ya papa,  akun tidak bisa menjawabnya takut aku berdosa karena aku tidak tahun persoalannya secara pasti, hanya ku menjawabnya nanti deh papa beri tahu lain kali ya.
Aktivitas sekolah pun mulai, Rama dengan angkot menjadi teman setianya pulang dan pergi dengan bahagianya, sedangkan terang  yang awalnya sering diantar oleh ibunya dengan mobil, belakangan terlihat Terang berangkat dengan motor sendirinya. Memang lokasi sekolah dengan lingkungan kami tinggal hanya  sekitar 2 kilometeranlah tapi kan itu berbahaya anak dibawah umur sudah bawa kendaraan sendiri, kembali lagi terketus dalam hati ah itu kan urusan orang tua dia.
Setelah tiga bulan sekolah mulai tersiar kabar, Terang sering pulang mabok dilingkungan, orang tua Terang pun secara bergantian mendapat panggilan dari Sekolah, namun karena orang tua Terang dihormati karena kaya masih diberi toleransi, sampai pada suatu hari Terang pun  terlibat Tawuran yang menyebabkan nyawa  salah seorang siswa pada sekolah lain melayang sia-sia.  Terang  jadi buronan polisi  karena diduga dialah pelaku pembunuhan tersebut. … untuk kisah selanjutnya ikuti dalam “Ketika Terang Tiada dan Kembali  Lagi”

Selasa, 11 Desember 2012

Blusukan Ala Jokowi Dalam Konteks Pemikiran Systems


Dalam penyelesaian masalah dikenal  ada  yang merujuk pada  linear, ada yang berpikir system. Pada aliran linear memandang bahwa masalah dalam penyelesaiannya langsung diberikan treatmentnya tanpa menyelidiki  rangkaian penyebab dari masalah serta dampak penyelesaiannya tersebut sehingga tidak jarang kebijakan malah menyebabkan masalah baru yang lebih pelik.
Untuk mengantarkan kita pada pemahaman pengambilan keputusan linear saya menganalogikan dengan orang sakit kepala,   setiap orang sakit kepala, maka yang diingat adalah panadol, tanpa memikirkan apa cocok atau tidak, padahal penyebab sakit kepalanya karena kurang tidur, ini kan jelas kontra produktif jadinya.
Sedangkan dalam penyelesaian maslah  menurut  pemikiran system  bahwa masalah tersebut  berada dalam system aktivitas manusia  yang penuh dengan  kompleksitas, dimana  serba system  dunia nyata itu  bersifat ruwet,  (messy), tidak terstruktur (ill-structure),  oleh  karena itu hanya  dapat dieksplorasi  melalui suatu system pembelajaran, sekaligus memperlakukan  dan memodelkan  tipologi  system aktivitas  manusia  di tengah  proses pencarian  sosialnya (social inqury) (Sudarson, 2012).
Dalam konteks pengambilan keputusan, Schon  menekankan bahwa  dalam penyelesaian masalah dibutuhkan  pemikiran system. (Wahyudi,2011). Penyelesaian masalah tersebut, tergantung pada sumber informasi apa yang dipilih dan dikonversi  kedalam suatu keputusan.
Dalam teknik penyelesaian masalah yang akan dibentuk dalam sebuah kebijakan  dikenal proses identifikasi, dalam proses ini dikenal banyak metode, mulai obesrvasi, wawancara, FDG, melalui riset dll.
Pertanyaannya  metode blusukan letaknya dimana, menurut pemikiran saya dapat dikategorikan sebagai metode obsevasi yang mendalam dan di Malaysia menyebutnya  Strategi pendakian bukit (atau juga dikenali sebagai penurunan/pendakian cerun, atau pengurangan perbezaan): Setiap langkah dalam penyelesaian masalah itu cuba mendekati keadaan sasaran. Kelemahan dalam pendekatan ini adalah bahawa terdapat banyak cabaran yang memerlukan anda kelihatan menjauhi keadaan sasaran supaya dapat melihat dengan lebih jelas penyelesaiannya. http://ms.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_masalah

Dalam pemikiran system yang menekankan partisipatory  dalam pelaksanaannya, hal ini sangat berguna untuk mengali lebih mendalam informasi para informan dan nara sumber yang berhubungan dengan situasi masalah (situation problematic) istilah yang diberikan Chehkland.
Gubernur DKI Jakarta, oleh kebanyakan orang mungkin menganggapnya, sebagai orang yang tidak paham manajemen, tapi pada dasarnya beliau sangat paham untuk itu, karena permasalahan Jakarta hari adalah Systemic, jadi penyelesaiannya harus, comprehensive/ menyeluruh, jejaring/berantai dan berkesinambungan/continuous serta agak ekstrim dikitlah dan tentunya harus culturally feasible (masih harus mempertimbangkan budaya, makanya salah satu cara yang tepat untuk memahami budaya itu melalui blusukan terlebih Jokowi bukan asli Jakarta), kemudian landasan logis dalam pengambilan keputusan harus yang diutamakan  agar dapat berhasil, untuk menjamin logisnya keputusan tentunya harus diketahui oleh banyak orang, ini juga sudah mulai dilakukan.
Selama ini sudah banyak konsep dalam menyelesaikan masalah ibu kota baik dalam bentuk hasil penelitian, seminar, bedah kasus, dll, tapi mungkin belum dimanfaatkan atau mungkin tekniknya yang keliru, sehingga  tidak mengena diakar permasalahan, karena  metode selama ini lebih banyak dirancang dibalik meja ketimbang survey dilapangan, atau survey dialakukan oleh bawahan sehingga informasi yang akurat dan benar tidak sampai kepada pengambil kebijkan yang lebih tinggi, apalagi bawahan masih menganggap jabatan adalah segalanya, sehingga tidak jarang prisip ABS (asal bapak senang) masih aja dipakai padahal sudah reformasi. Oleh karena itu blusukanlah ( saya biasa menyebutnya bukan metode biasa)  yang tepat diterapkan untuk menggali informasi yang terpendam selama ini.
Dengan metode ini layer-layer aktivitas manusia  yang masing-masing punya purporfull (tujuan) akan dirangkum dalam sebuah tindakan yang dikonstruk melalui suatu kebijakan yang segera, masuk prioritas,  dan kebijakan jangka menengah dan panjang. Konstruksi tersebut tantunya dengan pertimbangan rangkaian masalah serta sentuhan yang tepat yang merujuk pada pertimbangan berbagai pihak termasuk masyarakat kelas bawah yang merakan dampak dari kebijakan tersebut harus dipertimbangkan yang dikombinasikan dengan pendapat para pakar dan ilmuan serta praktisi. Jejaring penyelesaian ini akan berdampak silmultansi penyelesaian masalah yang pelik tersebut dan itu sudah dimulai oleh Jokowi sebagai Gubernur DKI sang penggali informasi, sang agen  perubahan.
Jadi mari kita dukung dan doakan agar DKI bebas dari permasalah pelik yang melilitnya, kesadaran bersama untuk satu nusa satu bangsa dan satu ibu kota negara kita patrikan dalam diri kita sebagai wujud dari rasa nasionalisme dan persatuan kita.
Saya sebenarnya iri juga pada saat beberapa bulan lalu berkunjung ke Malaysia, dimana-mana ada bendera Malaysia  entah dirumah penduduk lebih-lebih di kantoran.
 Lebih menyedihkan lagi ternyata kita sudah tidak bersatu lagi terbukti  pada saat piala AFF, pemain terbaik kita sebagian tidak ikut main karena adanya konflik di PSSI, secara pribadi saya rasa kita sudah mulai runtuh nasionalisme kita, mengapa saya fonis demikian karena  tawuran dengan gampangnya terjadi plus konflik politik pribadi  merusak itu semuanya.

Referensi
Hardjosoekarto. Sudarsono. 2012. Soft System Metodology (Metode Serba Sistem Lunak).Jakarta. UIP
Wahyudi.Andreo . 2011.Dinamika Knowing Organization. Model Organisasi Adaptif Untuk Lingkungan Dinamis. Jakarta. Yayasan Rabi.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Penyelesaian_masalah

Senin, 10 Desember 2012

Opini



Kurikulum 2013 VS Otonomi Daerah

Perdebatan  atas kurikulum 2013, dapat berujung pada penolakan jika anggaran untuk menunjang penerapan kurikulum 2013 tidak memadai, terutama daerah-daerah yang fokus pengembangannya bukan sumber daya manusia, akan tetapi  pembangunan fisik yang menjadi prioritas utamanya. Ini menjadi penting karena dengan perubahan ini sekolah yang menjadi tanggung jawab daerah, akan memikul beban lebih  dari yang biasanya berlangsung selama ini. Apabila benar-benar akan diterapkan, maka sekolah dan  guru akan melakukan modifikasi atau perbaikan pada persiapan administrasinya. Dan itu tidak akan mungkin terjadi dengan sendirinya, guru mesti membutuhkan pemahaman dari kurikulum tersebut, dan rasanya butuh waktu lama untuk memahamkan dan merubah mind set serta experience dari guru atas perubahan kurikulum yang terkesan singkat, terlebih pemahaman guru yang belum merata sampai saat ini atas kurikulum 2006 sudah akan diganti lagi dengan kurikulum 2013.
 Jika memang benar-benar kurikulum tersebut harus menjadi pijakan dari guru maka guru harus diberikan pelatihan yang memadai agar guru dapat menjiwai kurikulum tersebut. Hal ini harus  dilakukan mengingat yang menjadi permasalahan mendasar sebenarnya adalah kemampuan guru yang masih terbatas dalam akses informasi terutama di daerah-daerah yang masih belum terjangkau telekomunikasi, ini juga bisa menjadi penghambat dalam implementasi kurikulum 2013 yang berbasis pembelajaran abad 21 untuk menghasilkan manusai Indonesia yang mempunyai keterampilan networking, problem solving, komunikatif, collaborative, creatif  dan inovatif yang berbasis IT.
Upaya upgrade pemahaman guru tersebut   bertujuan untuk  kesinambungan dan keberhasilan kurikulum tersebut, oleh karena itu jika tidak ada dukungan pendanaan yang memadai dalam implementasinya, kemungkinan besar tidak jauh berbeda nasibnya dengan kurikulum sebelumnya.
Yang  tidak kalah menariknya adalah apakah kurikulum 2013 sudah didukung kebijakan literasi bagi anak-anak kita, dalam hal ini ada dukungan kebijakan untuk kewajiban membaca bagi siswa,  jika  hal ini belum ada, sangat tidak mungkin untuk kita dapat  meningkatkan prestasi bangsa kita kalau  kita dan anak-anak kita tidak ada motivasi untuk membaca. Mengapa harus ada dukungan kebijakan karena dengan dukungan kebijakan tersebut, payung hukum penyelenggaraan bagi sekolah jelas, karena saat ini sekolah khususnya kepala sekolah dihantui "budaya copot" oleh pemerintah daerah, apalagi kebijakan didaerah  saat ini yang populis adalah sekolah gratis.
Kegiatan budaya baca disekolah bagi peserta didik sebenarnya bisa diselenggarakan secara mandiri oleh sekolah namun untuk secara menyeluruh, jika tidak ada kebijakan sebagai prasyarat bagi siswa, menurut saya sulit untuk mencapai hasil yang maksimal, apalagi orang tua siswa sudah terlnjur terkontaminasi virus sekolah gratis tadi sehingga beli buku untuk kepentingan anaknya pun sulit mereka lakukan.
Budaya baca dengan taget Misalnya 1000 buku untuk setiap anak selama berada pada`jenjang sekoah tersebut, akan  membiasakan anak kita untuk reinforcing kemampuan membacanya, setelah beberapa saat, kebiasaan ini akan dengan sendirinya mengalir tanpa ada kewajiban pun sudah akan menjadi kebutuhan bagi mereka. Dengan demikian keterpurukan bangsa kita akan terpulihkan dengan budaya baca ini, karena dengan budaya baca kita dapat mengenal dunia, dan akhirnya kita pun akan terinspirasi untuk dikenal dunia lewat tulisan kita.