Sekolah
Juga dapat Menjadi Organisasi Pembelajar (Learning Organization)
Konsep
Organisasi Pembelajar yang lahir di dunia bisnis, dalam era informasi seperti
saat ini yang bergerak seakan membuat segalanya tanpa batas, mendorong
organisasi untuk terus berubah. Perubahan ini tentunya dapat terjadi jika
organisasi terus-menerus belajar. Dalam konteks sekolah sebagai organisasi
pendidikan, dengan tuntutan kualitas dari masyarakat akan pendidikan terhadap
anak-anak mereka, membuat sekolah harus berpikir ekstra dalam
pengelolaannya.
Organisasi
pembelajar sebagaimana digagas oleh Peter Senge dalam bukunya "Five
Dicipline" menyatakan bahwa organisasi pembelajar adalah organisasi yang
memiliki 3 ciri yaitu; 1. individu, tim dan akhirnya organisasinya terus memunculkan
Aspirasi; 2. Terus melakukan perenungan untuk
mengembankgan kemampuan untuk menemukan pola serta cara kerja baru; 3.
Kapasitas tersebut di konseptualisasikan dalam cara-cara
serta sistem baru.(Senge, 2002:24-25). Jadi Gagasan Learning Organization
adalah organisasi yang tiada henti mengembangkan kapasitasnya untuk
menciptakan masa depannya (Wahyudi, 2011:1).
Oleh
karena itu sekolah seyogya dapat menerapkan konsep ini dalam pengembangan
dirinya untuk menjawab tantangan permintaan mutu pendidikan dari masyarakat.
Lantas apa yang harus dilakukan oleh
sekolah agar dapat menjadi organisasi pembelajar. Sekolah sebagai organsasi
pendidikan yang mencetak sumber daya manusia tentunya berbeda dengan
manufacturing, karena sperti yang dikemukakan oleh Philip (2010:2) bahwa para
pemimpin di organisasi sektor publik
menghadapi tantangan yang sama untuk meningkatkan kemampuan adaptasi dan
respon perusahaan mereka sebagai eksekutif swasta. Namun, di sektor publik,
pemimpin sering bekerja dengan kendala yang lebih besar, dalam hal sumber daya,
tradisi dan struktur kebijakan. Hal ini bahkan lebih kasus di Asia Timur di
mana norma-norma budaya serta besar, struktur organisasi yang sangat kaku
menghambat pengembangan organisasi sektor publik. Meski demikian konsep organisasi
pembelajar dapat diterapkan di sekolah seperti yang dilaporkan oleh
beberapa peneliti misalnya Hon Bui dan Yehuda Baruch" Creating Learning
organization in Higher Education: Applying a system Prespective; Carol Jean
Christian. " An
investigation of a middle-high school system as a learning organization during
the implementat", Bowen, Gary L;Ware, William B;Rose, Roderick A;Powers, Joelle D.Assessing the
Functioning of Schools as Learning Organizations dan yang lainnya.
Untuk
menjadikan diri sebagai organisasi pembelajar,maka sekolah harus mampu
menjembatani terbentuknya proses transformasi pengetahuan dari individu ke
individu, individu ke timnya, individu ke organisasinya atau tim ke
organisasinya.
Proses dalam
organisasi pembelajar dikenal dengan istilah institusionalisasi pengetahuan
dari individu ke pengetahuan organisasi (Tjakraatmadja, 2006:142).
Jadi Kepala
sekolah bukan lagi menjadi satu-satuya sumber ide atau gagasan untuk
pengembangan sekolah. Untuk merangsang muncul ide-ide cemerlang, sekolah
seyogya memberi ruang dan mendorong guru dan staf administrasi
sekolah untuk menciptakan budaya berbagi (sharing knowledge) melalui
pemberdayaan MGMP yang konsisten. Dari sharing ini akan tercipta budaya
mutu dimana semua elemen sekolah tertaut pada isu MUTU dalam segala
suasana terutama pada saat berada disekolah. Indikasi terciptanya budaya MUTU
adalah semua elemen yang ada dalam organisasi pada organisasi sekolah adalah
guru serta staf Administrasi sekolah jika berada diruang guru atau di sekolah
bukan gosip pribadi yang mengemuka tetapi diskusi tentang apa dan bagaimana
sekolah dan pengajaran kita seharusnya.
Referensi
Senge. Peter.
2002. The Fifth Discipline. (Ir. Hari Suminto, Penerjemah). Batam. Interaksara.
Wahyudi.
Andreo. 2011. Dinamika Knowing Organization. Jakarta Timur. Yayasan RABI (Ragi
Anak Bangsa Indonesia).
Tjakraatmadja.
Jan Hidayat. dkk. 2006. Knowledge Management. Dalam Konteks Organisasi
Pembelajar. Bandung. SBMTB.