Menjadi Guru Era Baru Dengan "Batunet"

Minggu, 02 Desember 2012

Solusi Pengangguran "PT"


BANYAK LULUSAN PERGURUAN TINGGI YANG TIDAK BEKERJA

Persoalan pengangguran terus menghantui negeri ini. Penyumbang paling dominan pengangguran tersebut adalah para angkatan kerja lulusan perguruan tinggi (PT). Kemendiknas mencatat, dalam setiap tahun sekitar 30 persen lulusan PT tidak terserap di dunia kerja. Bahkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), menyebutkan jumlah sarjana (S-1) pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian jumlah pengangguran terdidik bertambah menjadi 626.200 orang.
Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik. Dalam rentang waktu 2007-2010 tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57%. Pada perkembangan berikutnya, BPS menilai jumlah persentase pengangguran terdidik (sarjana) yang menganggur sedikit berkurang, Februari 2011 turun menjadi 9,95%, dibanding Februari 2010 sebesar 14,24%. Turunnya tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi itu terkait penerimaan PNS ( Sumber : http://www.jpnn.com, 14 Februari 2011).
  
A.Penyebab pengangguran atau lulusan Perguruan Tinggi tidak bekerja 

 1.      Lapangan Pekerjaan Masih Minim.

Sesuai yang dikutip oleh Inilah.Com Jakarta 29 April 2012,  Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi di atas 6% ternyata tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja. Sampai saat ini hanya 65% angkatan kerja yang terserap dari total 119,39 juta orang angkatan kerja yang ada sekarang. "Dari total angkatan kerja tahun ini 7,5 juta masih menganggur karena minimnya lapangan kerja,"
Muhaimin mencontohkan di Lampung, misalnya hanya 900 orang yang dapat kesempatan kerja, padahal di daerah itu ada 5.000 lebih angkatan kerja. "Harus diakui jumlah lapangan kerja memang masih rendah penyerapannya," seperti yang dilaporkan oleh Bank Dunia tahun 2010  hal 42 dijelaskan bahwa adalah  “Pangsa pekerja yang memiliki pekerjaan turun sebesar 0,4 persen per tahun, dari 62,9 persen tahun 1999 menjadi 61,3 persen tahun 2003. Turunnya lapangan kerja ini seluruhnya disebabkan oleh turunnya keikutsertaan dalam angkatan kerja; disisi lain, pengangguran turun sedikit, yaitu 0,2 persen. Turunnya keikutsertaan dalam angkatan kerja antara tahun 2001 dan 2003 disebabkan oleh naiknya jumlah pekerja patah semangat.

Pertumbuhan lapangan kerja tidak seberbanding dengan penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan  jumlah angkatan kerja lebih cepat bila dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan kerja, sehingga hal ini mengakibatkan angkatan kerja termasuk lulusan perguruan tinggi banyak yang menganggur. Seperti yang terlihat pada tabel  berikut :


(Sumber : Laporan Bank Dunia, 2010 )       

Pertumbuhan Lapangan kerja di Indonesia pasca krisis jika dibandingkan dengan negara lain dikawasan Asia Tenggara   awal sampaipertengahan 90-an, kawasan inimengalami pertumbuhan pesatdengan rata-rata 7,5 persen pertahun antara 1999 sampai 2003, pertumbuhan PDB Indonesia telah pulih dengan tingkat rata-rata 4,7 persen per tahun. Tingkat pertumbuhan ini relatif lemah, sedikit di atas Thailand dan Filipina, tetapi masih kalah dari Malaysia, Vietnam, dan Cina Selain itu, pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian di Indonesia juga mengecewakan. Bahkan setelah pulih dari krisis pun, para pekerja di Indonesia masih terus kembali ke pekerjaan pertanian sehingga lapangan kerja pertanian tumbuh 0,8 persen per tahun, hampir sama dengan tingkat pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian pada periode krisis moneter. Keadaan ini sangat bertolak belakang dengan negara lainnya yang telah kembali mengalami transformasi struktural dan mengalami peningkatan pesat lapangan kerja non-pertanian.
Sejak 2003, penciptaan lapangan kerja non-pertanian di Indonesia telah meningkat, namun masih
belum mencapai taraf periode sebelum krisis. Tingkat pertumbuhan PDB tahunan Indonesia sebesar 5,4 persen antara 2003 sampai 2006 sedikit lebih tinggi daripada Thailand, tetapi masih tertinggal dari Cina dan Vietnam. Meskipun pertumbuhan ekonominya hanya sedang saja, tetapi catatan lapangan kerja Indonesia lebih baik dari kebanyakan negara tetangganya. Lapangan kerja total sedikit menurun; hanya Cina dan Malaysia yang mengalami penurunan lebih besar. Namun, yang mencolok adalah pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian di Indonesia. Jumlah pekerja yang memiliki pekerjaan non-pertanian melonjak sampai 3,5 persen per tahun. Walaupun pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian ini lebih baik dari beberapa negara tetangganya, laju pertumbuhannya belumlah sebanding dengan tingkat pertumbuhan 6,3 persen per tahun pada masa sebelum krisis. Jadi menurut  Bank Dunia krisis lapangan kerja di Indonesia saat ini karena fenimena jobless growth yang jauh lebih parah daripada negara tetangganya pasca krisis, kemudian muncul pertanyaan mengapa Indonesai  yang mulai meninggalkan sector pertanian masih tertinggal dalam pembukaan lapangan kerja hingga saat ini bila dibandingkan negara tetangga.


(Sumber : Laporan Bank Du nia, 2010:52). 

Faktor lain adalah rendah pertumbuhan  perekonomia Indonesai, hal ini seperti terlihat pada tabel perbandingan elastisitas pertumbuhan sekot-sekotor perekonomian di kawasan asia tenggara berikut ini :
(Sumber : Laporan Bank Dunia, tahun 2010:58).



2.      Kualitas Lulusan dan Kualifikasi Lulusan

Fenomena pengangguran terdidik  tidak terlepas dari konstribusi perguruan tinggi yang umumnya lebih mempersiapkan lulusannya menjadi pencari kerja (job seeker) bukan pencipta lapangan kerja (job creator). Padahal Indonesia butuh wirausaha minimal 2% dari jumlah penduduknya untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi bangsa yang saat ini jumlah wirausahanya masih 0,18%. Menurut Dirjen Dikti dengan gencarnya pendidikan kewirausahaan, baik yang diintegrasikan dalam kurikulum maupun dalam program mahasiswa wirausaha, pada 2014 ditargetkan sebanyak 20 persen lulusan perguruan tinggi berhasil menjadi usahawan.
Wakil Mendiknas Fasli Jalal menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan lulusan perguruan tinggi tidak terserap dunia kerja. Faktor tersebut tidak sebatas pada kualitas lulusan,tetapi juga pada kualifikasi lulusan. Maskdunya, kualifikasi lulusan PT kesulitan mencari lowongan kerja yang sesuai. ( Sumber :  http://www.jpnn.com/ 14 Februari 2011).
Beberapa lapangan pekerjaan yang masih membutuhkan tenaga kerja antara lain di bidang Informasi dan Telekomunikasi. Hanya saja kadang-kadang alumni yang dihasilkan dari Perguruan Tinggi tidak memenuhi kualitas IT yang dibutuhkan oleh Lapangan Kerja. Kemudian mengenai kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi, terutama jurusan yang sudah jenuh seperti Manajemen dan Hukum, akan kesulitan mencari lapangan pekerjaan.
Ketidak sesuaian antara kualifikasi dengan kebutuhan dunia kerja ini sehingga menyebabkan lulusan sekolah atau perguruan tinggi menganggur. Ketidak sesuaian ini setiap tahunnya mengalami peningkatan seperti yang dilaporkan oleh Bank Dunia pada Laporan tentang ketenaga kerjaan di Indonesia tahun 2010 melaporkan bahwa ketidaksesuaian kebutuhan dunia kerja dengan lulusan pendidikan semakin bertambah seperti hasil temuan survey Bank Dunia yang menyatakan bahwa Pemberi kerja di sektor manufaktur, dan terutama di sektor jasa, kini mempekerjakan semakin banyak pekerja dengan tingkat keahlian yang lebih tinggi daripada sebelumnya  serta melaporkan bahwa persyaratan keahlian yang mereka tentukan telah meningkat selama dua tahun terakhir
permintaan keahlian pada tingkat pemberi kerja dan karyawan, serta faktor pendorongnya. Survei ini difokuskan pada lima provinsi yang menjadi pusat pembangunan ekonomi, dan di dalam lima provinsi tersebut, pada sampel 82 persen dari perusahaan yang disurvei baru-baru ini mengklaim bahwa persyaratan keahlian pekerja di perusahaan mereka terus naik karena standar mutu produk dan jasa juga semakin
tinggi. 76 persen mengatakan bahwa persyaratan keahlian terus meningkat karena lingkungan bisnis yang semakin bersaing.
 Tren ini kemungkinan akan terus berlanjut. 80 persen dari perusahaan yang disurvei
memperkirakan bahwa tren naiknya persyaratan keahlian akan terus terjadi, baik di sektor manufaktur maupun jasa (Sumber: Laporan Ketenaga Kerjaan Indonesia oleh Bank Dunia, 2010:142).  Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut :


Sumber : Laporan Bank dunia, 2010:142

3.      Faktor  Gengsi dan Pola Pikir Masyarakat

Bagi para sarjana, walaupun menganggur, umumnya mereka memilih tinggal di perkotaan daripada mencari lapangan kerja di pedesaan. Apalagi kultur yang berlaku dimasyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa tujuan untuk sekolah apalagi sarjana, dianggap tidak bekerja kalau bukan pada instansi pemerintah. Jadi pola pikir seperti ini masih menghambat berkembangnya lapangan pekerjaan yang ada di pedesaan. Padahal banyak peluang pekerjaan yang bisa dikembangkan di pedesaan antara lain bidang pertanian, peternakan dan perkebunan, seperti terlihat pada diagram  berikut ini:
 (Sumber : Sakernas, 2008)
     
Perbedaan inilah yang menyebabkan para pencari kerja cenderung ke kota ketimbang di desa karena  didaerah pedesaan hanya sector pertanian yang paling berpeluang, padahal didaerah pedesaan banyak tersedia sumber daya alam yang menunggu tangan-tangan professional untuk mengoloahnya. Hal ini yang harus menjadi focus pemerintahn seharusnya dengan member peluang berkembang bagi daerah pedesaan dengan pemberian kebijakan investasi yang berbasis penningkatan nilai tambah terhadap sumber daya yang ada dipedesaan.  Degan demikian alumni perguruan tinggi dapat bekerja atau membuka peluang bisnis disana, karena prosi pengembangan yang beribang antara kota dan pedesaan tersebut

 
B. Solusi Mengatasi  Pengangguran Lulusan Perguruan Tinggi  

I.       Pencegahan

1.      Perbaikan system Pendidikan

Seperti yang  telah ditetapkan pemerintah dalam RENSTRA Pendidikan Nasional tentang pendidikan avokasi di perguruan tinggi. Model pendidikan ini dengan orientasi keahlian untuk alumninya sangat berperan dalam upaya mengatasi rendahnya kualifikasi yang dimiliki para alumni perguruan tinggi saat ini. Model Pendidikan ini tentunya membutuhkan anggaran yang besar untuk merealisasikannya oleh karena itu butuh analisis yang komprehensif dari pemerintah untuk merealisasikannya, karena  butuh peralatan praktek/bengkel yang harus memadai agar dapat menjawab kebutuhan dunia kerja yang menjadi keluhan selama in.

Sistem ini tentunya butuh rancangan model yang harus jelas jangan seperti model SMK yang selama ini telah ada hanya nama minim fasilitas praktek. Setelah system pendidikan terbentuk tentunya harus dibangun pola kerjasam yang jelas antara perguruan tinggi dengan dunia usaha.

Kerjasama Perguruan Tinggi dengan Dunia Usaha/Industri Menakertrans Muhaimin Iskandar ketika mengunjungi bursa kerja di UI pekan lalu mengatakan, perguruan tinggi harus bertanggung jawab dengan munculnya pengangguran terdidik itu. Muhaimin berharap, hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia industri harus lebih kuat, terutama dalam career development.

Sebab tingginya pengangguran dari lulusan perguruan tinggi itu adalah kualifikasi dan kompetensi lulusan perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Melalui kerjasama yang kuat dengan dunia usaha, diharapkan perguruan tinggi bisa mendapatkan masukan kualifikasi lulusan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Di pihak lain, dunia industri juga dihimbau tidak menolak jika diminta untuk menjadi tempat magang para mahasiswa. Dengan demikian antara perguruan tinggi dengan dunia industri harus saling mendukung (Sumber : http://www.jpnn.com).

2.      Pengawasan yang harus ditingkatkan

Pemerintah sebagai regulator sekaligus sebagai  supervisor seyogyanya menetapkan  aturan dan pengawasan  yang lebih ketat terhadap  Perguruan Tinggi agar tidak ada Perguruan Tinggi yang hanya memberikan selembar ijazah dan gelar tanpa ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari kerja maupun untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
  
3. Sosialisasi  perbaikan system pendidikan untuk meningkatkan peran Masyarakat. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat apa yang diperbuat oleh pemerintah, dan masyarakat member respon yang positif dalam pengembangan pendidikan nasional. Sehingga masyarakat sadar akam pendidikan yang bermutu dan manfaatnya (opini penulis).

  I. Penanggulangan

1.      Inovasi Mengatasi Ketidaksesuaian. 

Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dengan kualifikasi lulusan perguruan tinggi maka perusahaan mengadakan sejumlah langkah sinkronisasi, senada dengan hal tersebut Bank Dunia memberikan solusi (2010:146) menjelaskan bahwa “perusahaan yang melakukan penjangkauan kepada mahasiswa misalnya  PT Astra International Didirikan pada tahun 1957, PT Astra International (Astra) memiliki catatan prestasi dalam memperkenalkan  berbagai praktik keorganisasian dan manajemen, baik gaya Jepang maupun Barat, serta dalam melatih kader manajer profesional. Hasilnya, perusahaan ini sering disebut-sebut sebagai salah satu perusahaan Indonesia yang pengelolaannya paling baik.

 Kebijakan inovatif ini telah memungkinkan Astra untuk berkembang dari perusahaan dagang kecil menjadi kelompok usaha terdiversifi kasi yang mempunyai enam bisnis inti: otomotif, jasa keuangan, peralatan berat, agribisnis, teknologi informasi, dan infrastruktur. Kelompok usaha terdiversifi kasi ini kini memiliki lebih dari 130 anak perusahaan yang mempekerjakan sekitar 120.000 staf.

Kelompok usaha ini menyerap sekitar 1.000 orang lulusan baru setiap tahun melalui Recruitment and Career Development yang mengelola perekrutan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia. Program ini disebut  Astra goes to Campus (AGTC) dan menggunakan serangkaian strategi perekrutan untuk membantu mengurangi ketidaksesuaian dengan diawali dengan kegiatan :
a.Pameran/Bursa Kerja: Astra turut serta dalam bursa kerja yang diselenggarakan pihak universitas dan juga mengadakan sendiri bursa kerja universitas yang disebut “Astra Days”. Astra Days memungkinkan perusahaan untuk menjangkau pemirsa sasarannya, yaitu mahasiswa S1 dan S2 yang sedang mencari kerja. Kegiatan kampus yang dilakukan Astra merupakan bagian terpenting dari strategi perekrutannya yang telah menghasilkan 39 persen dari keseluruhan karyawan baru pada 2008.
b. Astra Workshop Program (AWP):  Program lokakarya ini dirancang untuk mengembangkan perangkat keahlian para mahasiswa yang diseleksi dari universitas terpilih berdasarkan prestasi mereka. Lokakarya tiga hari ini berisi pengembangan keterampilan sosial seperti kerja sama tim dan kepemimpinan, serta kegiatan pembimbingan dan konseling. Peserta yang berhasil dapat mengikuti rekrutmen jalur cepat di Astra setelah mereka lulus universitas.
c. Magang: Program ini terdiri atas tiga jenis magang yang memberi kesempatan bagi mahasiswa tingkat akhir untuk memperoleh pengalaman kerja secara langsung. (i) Di tingkat korporat, mahasiswa universitas diberi  kesempatan magang untuk posisi tertentu. (ii) Mahasiswa universitas mendapat kesempatan magang secara umum untuk mendapat pengalaman memanfaatkan pengetahuan mereka dalam lingkungan kerja sungguhan. (iii) Kesempatan magang bagi pelajar sekolah kejuruan, biasanya oleh anak perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur seperti PT. Astra Honda Motor dan PT. Toyota Astra Motor. Magang kejuruan ini lebih sering  diselenggarakan dan melibatkan kelompok besar (antara 30-50 pelajar per kelompok).
Pada saat bersamaan, Astra memberikan masukan dan sinyal kepada lembaga penyedia pendidikan mengenai mutu dan perangkat keahlian yang diperlukan para lulusan. Kegiatan ini termasuk
d. Lokakarya bagi dosen:  Lokakarya bagi dosen dimaksudkan untuk memperkaya materi kuliah yang diberikan oleh dosen universitas. Para dosen dari sejumlah universitas terkemuka diundang untuk ikut serta dalam lokakarya tersebut dan belajar mengenai aspek teknis atau manajemen produksi. Mereka juga akan mendapat materi yang kelak dapat digunakan saat memberi kuliah.
e. Kuliah tamu:  Kegiatan ini dimaksudkan sebagai program penjangkauan melalui kuliah tamu oleh staf Astra di universitas mengenai berbagai topik, mulai dari praktik manajemen hingga proses perekrutan.
f. Kunjungan perusahaan: Kegiatan ini ditujukan supaya mahasiswa dapat memahami operasi Astra. Program ini menyesuaikan jadwal kunjungan untuk berbagai jurusan. Tergantung pada fokusnya, mahasiswa mungkin akan mengunjungi pabrik untuk mempelajari berbagai mesinnya atau berdiskusi dengan manajer senior mengenai praktik terbaik manajemen.
g. Penyelenggaraan UI Career Expo: CDC mengundang calon pemberi kerja untuk ikut serta dalam sebuah pameran yang diadakan dua kali dalam setahun. Berbagai perusahaan menyewa tempat di lokasi pameran di kampus untuk mencari lulusan baru guna mengisi lowongan yang tersedia. Acara tersebut kini semakin dikenal dan menarik sehingga semakin banyak diikuti oleh pemberi kerja dan mahasiswa. Career Expo pertama yang diadakan tahun 2006 diikuti 10 perusahaan dan 500 mahasiswa pencari kerja, namun sampai Career Expo yang diadakan tahun 2008, keikutsertaan telah meningkat menjadi 58 perusahaan dan 6.500 pencari kerja. Menurut CDC, 20-30 persen dari mahasiswa yang menghadiri acara tersebut berhasil memperoleh pekerjaan.
h. Mengadakan Proses Perekrutan: Proses perekrutan perusahaan dilakukan setidaknya satu kali sebulan, tergantung pada permintaan dari perusahaan yang menjadi mitra. Selain itu, tergantung pada jenis kerja samanya, CDC UI dapat melakukan penyaringan awal kandidat dan mengadakan wawancara jika dibutuhkan.
i. Menyelenggarakan Seminar/Pelatihan:  Seminar dan pelatihan diadakan setidaknya dua kali dalam sebulan dan ditujukan untuk membantu lulusan UI agar dapat bersaing dengan lebih efektif di pasar tenaga kerja.
 Setiap seminar/pelatihan dihadiri oleh 50-100 orang peserta, sedangkan fokusnya tergantung pada keahlian yang menjadi sorotan berbagai perusahaan karena dianggap kurang dimiliki pencari kerja.
Yang sering ditekankan dalam pelatihan adalah keterampilan sosial seperti kerja sama tim dan kepemimpinan. Dalam beberapa kasus, perusahaan mengadakan pelatihan sebagai bagian dari proses perekrutan sehingga para peserta yang berhasil lulus dan memenuhi syarat akan direkrut. Kebanyakan pelatihan diberikan cuma-cuma kepada anggota CDC UI, tetapi non-anggota juga dapat mengikuti pelatihan dengan membayar. (Sumber: Laporan Bank  Dunia, 2010).


2. Penciptaan Lapangan Kerja

Menurut Muhaimin untuk mengatasi pengangguran dibutuhkan penciptaan kesempatan kerja yang banyak dan berkualitas, terutama pekerja formal harus diupayakan, serta perlindungan dan kesejahteraan pekerja yang dapat menjamin ketentraman pekerja beserta keluarganya. "Untuk dapat mencapai target-target tersebut, diperlukan kerja keras dari seluruh instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta swasta.”

Hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah membangun infrastruktur ekonomi seperti listrik, jalan-jalan produksi, sehingga menarik minat investor untuk melakukan investasi.

3.      Pelatihan Tenaga Kerja

Pelatihan tenaga kerja dilakukan kepada  kepada mereka yang belum memiliki lapangan pekerjaan. Pelatihan tenaga kerja ini  berupa keterampilan teknis maupun kewirausahaan (enterpreunership), baik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Balai Latihan Kerja guna memberikan keterampilan kepada angkatan kerja terutama untuk menciptakan lapangan pekerjaan seperti perbengkelan, keterampilan menjahit, dll.
Seperti yang dikuti TEMPO.CO, Jakarta ( 24 April 2012) bahwa Sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih kurang kompeten. Catatan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan, saat ini terdapat 81,1 juta orang tenaga kerja kurang kompeten dan hanya terdapat 20,4 juta tenaga kerja kompeten. Melihat kondisi tersebut, Kadin akan membentuk Kadin Training Center yang bertujuan meningkatkan kompetensi pekerja industri di Indonesia.

4. Cara lain adalah dengan menggadakan studi banding dengan model keberhasilanpelatihan di negara lain spserti yang direkomendasikan oleh Bank Dunia  bahwa di Kolombia ada satu program pelatihan yang bernama  Programa Jóvenes en Acción. Dari evaluasi terhadap program Jovenes en Acción memperlihatkan hasil mengesankan berikut ini; Tingkat lapangan kerja yang lebih tinggi: Bagi perempuan, pelatihan telah meningkatkan peluang mereka untuk memperoleh pekerjaan, lamanya hari dan jam bekerja, serta peluang untuk memperoleh pekerjaan dengan kontrak tertulis Dampak yang serupa, namun lebih terbatas juga dirasakan laki-laki. Kenaikan upah; Dampak yang paling signifikan dari program ini adalah peningkatan besar pada upah: upah perempuan meningkat 35 persen, sementara upah laki-laki meningkat 18 persen; Hemat biaya: Program ini menciptakan perolehan bersih yang besar, terutama bagi perempuan. Bahkan dengan menggunakan perhitungan efektivitas biaya yang paling konservatif sekalipun, ada isyarat bahwa manfaat bersih dari program ini lebih dari cukup untuk menjustifikasi pelaksanaannya dan kemungkinan perluasannya. Tingkat pengembalian investasi (IRR) terendah adalah 13,5% untuk perempuan dan 4,5% untuk laki-laki. Sumber: Attanasio, Orazio, Adriana Kugler, dan Costas Meghir. 2007.

Program Jóvenes ini  memberikan pelatihan bagi kaum muda dan miskin dalam hal keahlian profesi dan keterampilan hidup yang disusul dengan magang di tempat kerja. Didasarkan pada proyek percontohan di Cile pada awal 90-an, pelatihan dengan pendekatan menyeluruh ini telah menyebar ke seluruh kawasan Amerika Latin dan masingmasing negara menyesuaikan program dengan kebutuhannya. Kaum muda yang mengalami ketertinggalan diidentifikasi dengan cara-cara seperti statistik pengangguran, data sosioekonomi, dan pemetaan kemiskinan.

Perusahaan swasta, LSM, lembaga publik, dan lembaga pelatihan non-formal yang memenuhi persyaratan berkompetisi untuk memberikan pelatihan. Penyedia pelatihan diharuskan untuk mengatur magang bagi peserta pelatihan dan memastikan keahlian seperti apa yang dibutuhkan pemberi kerja lokal sebelum menerima dana untuk mengadakan pelatihan. Dengan cara ini, kegiatan magang akan memberikan informasi mengenai keahlian yang sedang dibutuhkan. Pelatihan keterampilan hidup secara intensif berfokus terutama pada keahlian memecahkan masalah, perilaku tempat kerja yang benar, mengelola konflik, teknik pencarian kerja, dan membangun kepercayaan diri.

Programa Jóvenes en Acción. Uji coba versi Kolombia dari program ini dimulai pada bulan Mei 2001 dengan menawarkan kursus pelatihan pekerjaan bagi 100.000 laki-laki dan perempuan yang menganggur dan menempati dua tingkat pendapatan terendah. Program dilaksanakan di tujuh kota dengan investasi keseluruhan senilai 17,6 juta dolar Amerika. Program pelatihan ini adalah bagian dari Jaringan Dukungan Sosial (Red de Apoyo Social) yang juga mencakup pekerjaan umum secara darurat untuk menciptakan penghasilan dan pendidikan keluarga serta tunjangan kesehatan untuk keluarga pedesaan miskin. Kaum muda berusia antara 18 dan 25 tahun menerima tunjangan dan voucher pelatihan yang dapat mereka gunakan untuk mendaftar pada kursus pelatihan pilihan mereka dari daftar penyedia pelatihan yang dipilih secara kompetitif. Pelatihan pekerjaan berlangsung sekitar tiga bulan dan diikuti dengan magang tiga bulan di sebuah perusahaan atau organisasi. Penerima manfaat juga menerima tunjangan makan dan transportasi. Program ini dikelola oleh kelompok yang terdiri atas lembaga pemerintah, organisasi nirlaba, dan perusahaan swasta. (Sumber : Laporan Bank Dunia 2010).

5.    Pinjaman Modal Kerja dan Pendampingan
  
Guna menciptakan lapangan kerja maka pemerintah diharapkan dapat memberikan pinjaman modal dengan bunga rendah. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Simpan Pinjam dari PNPM Mandiri Perdesaan merupakan beberapa contoh upaya pemerintah dalam membantu mendorong masyarakat untuk membuka lapangan kerja agar bisa menyerap tenaga kerja. Namun pinjaman modal itu harus dibarengi dengan pendampingan tenaga ahli, supaya pengelolaannya tertata dengan baik.




Daftar Referensi
Bank Dunia 2010.Laporan Ketenaga Kerjaan Indonesia. Menuju terciptanya pekerjaan lebih baik dan jaminan perlindungan bagi para pekerja.

TEMPO.CO, Jakarta ( 24 April 2012).
  
http://www.jpnn.com, 14 Februari 2011