BANYAK LULUSAN PERGURUAN TINGGI YANG TIDAK BEKERJA
Persoalan pengangguran
terus menghantui negeri ini. Penyumbang paling dominan pengangguran tersebut
adalah para angkatan kerja lulusan perguruan tinggi (PT). Kemendiknas mencatat,
dalam setiap tahun sekitar 30 persen lulusan PT tidak terserap di dunia kerja.
Bahkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), menyebutkan jumlah sarjana (S-1)
pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian jumlah pengangguran
terdidik bertambah menjadi 626.200 orang.
Jika setiap tahun
jumlah kenaikan rata-rata 216.300, pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1
juta pengangguran terdidik. Dalam rentang waktu 2007-2010 tercatat peningkatan
sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57%. Pada perkembangan berikutnya, BPS
menilai jumlah persentase pengangguran terdidik (sarjana) yang menganggur
sedikit berkurang, Februari 2011 turun menjadi 9,95%, dibanding Februari 2010
sebesar 14,24%. Turunnya tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi itu terkait
penerimaan PNS ( Sumber : http://www.jpnn.com, 14 Februari
2011).
A.Penyebab
pengangguran atau lulusan Perguruan Tinggi tidak bekerja
1. Lapangan
Pekerjaan Masih Minim.
Sesuai
yang dikutip oleh Inilah.Com Jakarta 29 April 2012, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin
Iskandar mengemukakan bahwa pertumbuhan
ekonomi di atas 6% ternyata tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja.
Sampai saat ini hanya 65% angkatan kerja yang terserap dari total 119,39 juta
orang angkatan kerja yang ada sekarang. "Dari total angkatan kerja
tahun ini 7,5 juta masih menganggur karena minimnya lapangan kerja,"
Muhaimin
mencontohkan di Lampung, misalnya hanya 900 orang yang dapat kesempatan kerja,
padahal di daerah itu ada 5.000 lebih angkatan kerja. "Harus diakui jumlah
lapangan kerja memang masih rendah penyerapannya," seperti
yang dilaporkan oleh Bank Dunia tahun 2010 hal
42 dijelaskan bahwa adalah “Pangsa
pekerja yang memiliki pekerjaan turun sebesar 0,4 persen per tahun, dari 62,9
persen tahun 1999 menjadi 61,3 persen tahun 2003. Turunnya lapangan kerja ini seluruhnya disebabkan
oleh turunnya keikutsertaan dalam angkatan kerja; disisi lain, pengangguran
turun sedikit, yaitu 0,2 persen. Turunnya keikutsertaan dalam angkatan kerja
antara tahun 2001 dan 2003
disebabkan oleh naiknya jumlah pekerja patah semangat.”
Pertumbuhan
lapangan kerja tidak seberbanding dengan penyerapan tenaga
kerja. Pertumbuhan jumlah angkatan kerja
lebih cepat bila dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan kerja, sehingga hal
ini mengakibatkan angkatan kerja termasuk lulusan perguruan tinggi banyak yang
menganggur. Seperti yang terlihat pada tabel berikut :
(Sumber : Laporan Bank Dunia,
2010 )
Pertumbuhan Lapangan kerja di Indonesia pasca krisis jika dibandingkan
dengan negara lain dikawasan Asia Tenggara
awal sampaipertengahan 90-an, kawasan
inimengalami pertumbuhan pesatdengan rata-rata 7,5 persen pertahun antara 1999 sampai 2003, pertumbuhan PDB Indonesia telah pulih
dengan tingkat rata-rata 4,7 persen per tahun. Tingkat pertumbuhan ini relatif lemah, sedikit di atas
Thailand dan Filipina, tetapi masih kalah dari Malaysia, Vietnam, dan Cina Selain itu, pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian di Indonesia juga mengecewakan. Bahkan setelah pulih dari krisis pun, para
pekerja di Indonesia masih terus kembali ke pekerjaan pertanian sehingga lapangan kerja pertanian tumbuh
0,8 persen per tahun, hampir sama dengan
tingkat pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian pada periode krisis moneter.
Keadaan ini sangat bertolak belakang dengan negara lainnya
yang telah kembali mengalami transformasi struktural dan mengalami peningkatan pesat lapangan kerja non-pertanian.
Sejak 2003, penciptaan lapangan kerja
non-pertanian di Indonesia telah meningkat, namun masih
belum mencapai taraf periode sebelum krisis. Tingkat pertumbuhan PDB tahunan Indonesia sebesar
5,4 persen antara 2003 sampai 2006 sedikit lebih
tinggi daripada Thailand, tetapi masih tertinggal dari Cina dan Vietnam. Meskipun pertumbuhan ekonominya hanya sedang saja, tetapi
catatan lapangan kerja Indonesia lebih
baik dari kebanyakan negara tetangganya. Lapangan kerja total sedikit menurun;
hanya Cina dan Malaysia yang mengalami penurunan lebih besar.
Namun, yang mencolok adalah pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian di Indonesia. Jumlah pekerja yang memiliki
pekerjaan non-pertanian melonjak sampai 3,5 persen per tahun. Walaupun pertumbuhan lapangan kerja
non-pertanian ini lebih baik dari beberapa negara tetangganya, laju pertumbuhannya belumlah sebanding dengan
tingkat pertumbuhan 6,3 persen per
tahun pada masa sebelum krisis. Jadi menurut Bank Dunia krisis
lapangan kerja di Indonesia saat ini karena fenimena jobless growth yang jauh
lebih parah daripada negara tetangganya pasca krisis, kemudian muncul pertanyaan
mengapa Indonesai yang mulai
meninggalkan sector pertanian masih tertinggal dalam pembukaan lapangan kerja
hingga saat ini bila dibandingkan negara tetangga.
(Sumber : Laporan Bank Du nia, 2010:52).
Faktor lain adalah rendah pertumbuhan
perekonomia Indonesai, hal ini seperti terlihat pada tabel perbandingan
elastisitas pertumbuhan sekot-sekotor perekonomian di kawasan asia tenggara
berikut ini :
(Sumber :
Laporan Bank Dunia, tahun 2010:58).
2.
Kualitas Lulusan dan Kualifikasi Lulusan
Fenomena
pengangguran terdidik tidak terlepas
dari konstribusi perguruan tinggi yang umumnya lebih mempersiapkan lulusannya
menjadi pencari kerja (job seeker) bukan pencipta lapangan kerja (job
creator). Padahal Indonesia butuh wirausaha minimal 2% dari jumlah
penduduknya untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi bangsa yang saat ini jumlah
wirausahanya masih 0,18%. Menurut Dirjen Dikti dengan gencarnya pendidikan
kewirausahaan, baik yang diintegrasikan dalam kurikulum maupun dalam program
mahasiswa wirausaha, pada 2014 ditargetkan sebanyak 20 persen lulusan perguruan
tinggi berhasil menjadi usahawan.
Wakil
Mendiknas Fasli Jalal menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan lulusan perguruan
tinggi tidak terserap dunia kerja. Faktor tersebut tidak sebatas pada kualitas
lulusan,tetapi juga pada kualifikasi lulusan. Maskdunya, kualifikasi lulusan PT
kesulitan mencari lowongan kerja yang sesuai. ( Sumber : http://www.jpnn.com/ 14 Februari 2011).
Beberapa lapangan pekerjaan yang masih membutuhkan
tenaga kerja antara lain di bidang Informasi dan Telekomunikasi. Hanya saja
kadang-kadang alumni yang dihasilkan dari Perguruan Tinggi tidak memenuhi
kualitas IT yang dibutuhkan oleh Lapangan Kerja. Kemudian mengenai kualifikasi
lulusan Perguruan Tinggi, terutama jurusan yang sudah jenuh seperti Manajemen
dan Hukum, akan kesulitan mencari lapangan pekerjaan.
Ketidak
sesuaian antara kualifikasi dengan kebutuhan dunia kerja ini sehingga
menyebabkan lulusan sekolah atau perguruan tinggi menganggur. Ketidak sesuaian
ini setiap tahunnya mengalami peningkatan seperti yang dilaporkan oleh Bank
Dunia pada Laporan tentang ketenaga kerjaan di Indonesia tahun 2010 melaporkan
bahwa ketidaksesuaian kebutuhan dunia kerja dengan lulusan pendidikan semakin
bertambah seperti hasil temuan survey Bank Dunia yang menyatakan bahwa Pemberi
kerja di sektor manufaktur, dan terutama di sektor jasa, kini mempekerjakan
semakin banyak pekerja dengan tingkat keahlian yang lebih tinggi daripada
sebelumnya serta melaporkan bahwa
persyaratan keahlian yang mereka tentukan telah meningkat selama dua tahun
terakhir
permintaan
keahlian pada tingkat pemberi kerja dan karyawan, serta faktor pendorongnya.
Survei ini difokuskan pada lima provinsi yang menjadi pusat pembangunan
ekonomi, dan di dalam lima provinsi tersebut, pada sampel 82 persen dari
perusahaan yang disurvei baru-baru ini mengklaim bahwa persyaratan keahlian
pekerja di perusahaan mereka terus naik karena standar mutu produk dan jasa
juga semakin
tinggi.
76 persen mengatakan bahwa persyaratan keahlian terus meningkat karena
lingkungan bisnis yang semakin bersaing.
Tren ini kemungkinan akan terus berlanjut. 80
persen dari perusahaan yang disurvei
memperkirakan
bahwa tren naiknya persyaratan keahlian akan terus terjadi, baik di sektor
manufaktur maupun jasa (Sumber: Laporan Ketenaga Kerjaan Indonesia oleh Bank
Dunia, 2010:142). Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut :
Sumber
: Laporan Bank dunia, 2010:142
3. Faktor Gengsi dan Pola Pikir Masyarakat
Bagi para sarjana, walaupun
menganggur, umumnya mereka memilih tinggal
di perkotaan daripada mencari lapangan kerja di pedesaan. Apalagi kultur yang
berlaku dimasyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa tujuan untuk sekolah
apalagi sarjana, dianggap tidak bekerja kalau bukan pada instansi pemerintah.
Jadi pola pikir seperti ini masih menghambat berkembangnya lapangan pekerjaan
yang ada di pedesaan. Padahal banyak peluang
pekerjaan yang bisa dikembangkan di
pedesaan antara lain bidang pertanian, peternakan dan perkebunan, seperti terlihat pada diagram berikut ini:
(Sumber : Sakernas, 2008)
Perbedaan
inilah yang menyebabkan para pencari kerja cenderung ke kota ketimbang di desa
karena didaerah pedesaan hanya sector
pertanian yang paling berpeluang, padahal didaerah pedesaan banyak tersedia
sumber daya alam yang menunggu tangan-tangan professional untuk mengoloahnya.
Hal ini yang harus menjadi focus pemerintahn seharusnya dengan member peluang
berkembang bagi daerah pedesaan dengan pemberian kebijakan investasi yang
berbasis penningkatan nilai tambah terhadap sumber daya yang ada
dipedesaan. Degan demikian alumni
perguruan tinggi dapat bekerja atau membuka peluang bisnis disana, karena prosi
pengembangan yang beribang antara kota dan pedesaan tersebut
B. Solusi
Mengatasi Pengangguran Lulusan Perguruan
Tinggi
I. Pencegahan
1.
Perbaikan system Pendidikan
Seperti
yang telah ditetapkan pemerintah dalam
RENSTRA Pendidikan Nasional tentang pendidikan avokasi di perguruan tinggi.
Model pendidikan ini dengan orientasi keahlian untuk alumninya sangat berperan
dalam upaya mengatasi rendahnya kualifikasi yang dimiliki para alumni perguruan
tinggi saat ini. Model Pendidikan ini tentunya membutuhkan anggaran yang besar
untuk merealisasikannya oleh karena itu butuh analisis yang komprehensif dari
pemerintah untuk merealisasikannya, karena
butuh peralatan praktek/bengkel yang harus memadai agar dapat menjawab
kebutuhan dunia kerja yang menjadi keluhan selama in.
Sistem ini
tentunya butuh rancangan model yang harus jelas jangan seperti model SMK yang
selama ini telah ada hanya nama minim fasilitas praktek. Setelah system
pendidikan terbentuk tentunya harus dibangun pola kerjasam yang jelas antara
perguruan tinggi dengan dunia usaha.
Kerjasama
Perguruan Tinggi dengan Dunia Usaha/Industri Menakertrans
Muhaimin Iskandar ketika mengunjungi bursa kerja di UI pekan lalu mengatakan,
perguruan tinggi harus bertanggung jawab dengan munculnya pengangguran terdidik
itu. Muhaimin berharap, hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia industri
harus lebih kuat, terutama dalam career
development.
Sebab tingginya
pengangguran dari lulusan perguruan tinggi itu adalah kualifikasi dan
kompetensi lulusan perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan
kerja. Melalui kerjasama yang kuat dengan dunia usaha, diharapkan perguruan
tinggi bisa mendapatkan masukan kualifikasi lulusan yang dibutuhkan oleh dunia
kerja. Di pihak lain, dunia industri juga dihimbau tidak menolak jika diminta
untuk menjadi tempat magang para mahasiswa. Dengan demikian antara perguruan
tinggi dengan dunia industri harus saling mendukung (Sumber : http://www.jpnn.com).
2.
Pengawasan yang
harus ditingkatkan
Pemerintah
sebagai regulator sekaligus sebagai
supervisor seyogyanya menetapkan aturan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap Perguruan Tinggi agar tidak ada Perguruan
Tinggi yang hanya memberikan selembar ijazah dan gelar tanpa ilmu pengetahuan
dan keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari kerja maupun untuk
menciptakan lapangan pekerjaan.
3. Sosialisasi perbaikan system pendidikan
untuk meningkatkan peran Masyarakat. Kegiatan ini dimaksudkan
untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat apa yang diperbuat oleh
pemerintah, dan masyarakat member respon yang positif dalam pengembangan
pendidikan nasional. Sehingga masyarakat sadar akam pendidikan yang bermutu dan
manfaatnya (opini penulis).
I. Penanggulangan
1.
Inovasi Mengatasi Ketidaksesuaian.
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi
ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dengan kualifikasi lulusan
perguruan tinggi maka perusahaan mengadakan sejumlah langkah sinkronisasi,
senada dengan hal tersebut Bank Dunia memberikan solusi (2010:146) menjelaskan
bahwa “perusahaan yang melakukan penjangkauan kepada mahasiswa misalnya PT Astra International Didirikan pada tahun 1957, PT Astra International (Astra) memiliki catatan
prestasi dalam memperkenalkan berbagai praktik keorganisasian dan manajemen, baik
gaya Jepang maupun Barat, serta dalam melatih kader manajer profesional.
Hasilnya, perusahaan ini sering disebut-sebut sebagai salah satu perusahaan
Indonesia yang pengelolaannya paling baik.
Kebijakan inovatif ini telah memungkinkan
Astra untuk berkembang dari perusahaan dagang kecil menjadi kelompok usaha
terdiversifi kasi yang mempunyai enam bisnis inti: otomotif, jasa keuangan, peralatan
berat, agribisnis, teknologi informasi, dan infrastruktur. Kelompok usaha terdiversifi
kasi ini kini memiliki lebih dari 130 anak perusahaan yang mempekerjakan
sekitar 120.000 staf.
Kelompok usaha ini menyerap
sekitar 1.000 orang lulusan baru setiap tahun melalui Recruitment and Career Development
yang mengelola perekrutan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia.
Program ini disebut Astra goes to Campus (AGTC) dan menggunakan
serangkaian strategi perekrutan untuk membantu mengurangi ketidaksesuaian
dengan diawali dengan kegiatan :
a.Pameran/Bursa Kerja: Astra turut serta dalam bursa kerja yang
diselenggarakan pihak universitas dan juga mengadakan sendiri bursa kerja
universitas yang disebut “Astra Days”. Astra Days memungkinkan perusahaan untuk
menjangkau pemirsa sasarannya, yaitu mahasiswa S1 dan S2 yang sedang mencari
kerja. Kegiatan kampus yang dilakukan Astra merupakan bagian terpenting dari
strategi perekrutannya yang telah menghasilkan 39 persen dari keseluruhan
karyawan baru pada 2008.
b. Astra Workshop Program (AWP):
Program lokakarya ini dirancang untuk mengembangkan perangkat keahlian
para mahasiswa yang diseleksi dari universitas terpilih berdasarkan prestasi
mereka. Lokakarya tiga hari ini berisi pengembangan keterampilan sosial seperti
kerja sama tim dan kepemimpinan, serta kegiatan pembimbingan dan konseling.
Peserta yang berhasil dapat mengikuti rekrutmen jalur cepat di Astra setelah
mereka lulus universitas.
c. Magang: Program ini terdiri atas tiga jenis magang yang memberi kesempatan
bagi mahasiswa tingkat akhir untuk memperoleh pengalaman kerja secara langsung.
(i) Di tingkat korporat, mahasiswa universitas diberi kesempatan magang untuk
posisi tertentu. (ii) Mahasiswa universitas mendapat kesempatan magang secara
umum untuk mendapat pengalaman memanfaatkan pengetahuan mereka dalam lingkungan
kerja sungguhan. (iii) Kesempatan magang bagi pelajar sekolah kejuruan,
biasanya oleh anak perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur seperti PT.
Astra Honda Motor dan PT. Toyota Astra Motor. Magang kejuruan ini lebih sering diselenggarakan dan
melibatkan kelompok besar (antara 30-50 pelajar per kelompok).
Pada saat bersamaan, Astra memberikan masukan dan sinyal kepada lembaga
penyedia pendidikan mengenai mutu dan perangkat keahlian yang diperlukan para
lulusan. Kegiatan ini termasuk
d. Lokakarya bagi dosen: Lokakarya
bagi dosen dimaksudkan untuk memperkaya materi kuliah yang diberikan oleh dosen
universitas. Para dosen dari sejumlah universitas terkemuka diundang untuk ikut
serta dalam lokakarya tersebut dan belajar mengenai aspek teknis atau manajemen
produksi. Mereka juga akan mendapat materi yang kelak dapat digunakan saat
memberi kuliah.
e. Kuliah tamu: Kegiatan ini
dimaksudkan sebagai program penjangkauan melalui kuliah tamu oleh staf Astra di
universitas mengenai berbagai topik, mulai dari praktik manajemen hingga proses
perekrutan.
f. Kunjungan perusahaan: Kegiatan ini ditujukan supaya mahasiswa dapat
memahami operasi Astra. Program ini menyesuaikan jadwal kunjungan untuk
berbagai jurusan. Tergantung pada fokusnya, mahasiswa mungkin akan mengunjungi
pabrik untuk mempelajari berbagai mesinnya atau berdiskusi dengan manajer
senior mengenai praktik terbaik manajemen.
g. Penyelenggaraan UI Career Expo: CDC mengundang calon pemberi kerja untuk
ikut serta dalam sebuah pameran yang diadakan dua kali dalam setahun. Berbagai
perusahaan menyewa tempat di lokasi pameran di kampus untuk mencari lulusan
baru guna mengisi lowongan yang tersedia. Acara tersebut kini semakin dikenal
dan menarik sehingga semakin banyak diikuti oleh pemberi kerja dan mahasiswa.
Career Expo pertama yang diadakan tahun 2006 diikuti 10 perusahaan dan 500
mahasiswa pencari kerja, namun sampai Career Expo yang diadakan tahun 2008,
keikutsertaan telah meningkat menjadi 58 perusahaan dan 6.500 pencari kerja.
Menurut CDC, 20-30 persen dari mahasiswa yang menghadiri acara tersebut
berhasil memperoleh pekerjaan.
h. Mengadakan Proses Perekrutan: Proses perekrutan perusahaan dilakukan
setidaknya satu kali sebulan, tergantung pada permintaan dari perusahaan yang
menjadi mitra. Selain itu, tergantung pada jenis kerja samanya, CDC UI dapat
melakukan penyaringan awal kandidat dan mengadakan wawancara jika dibutuhkan.
i. Menyelenggarakan Seminar/Pelatihan:
Seminar dan pelatihan diadakan setidaknya dua kali dalam sebulan dan
ditujukan untuk membantu lulusan UI agar dapat bersaing dengan lebih efektif di
pasar tenaga kerja.
Setiap seminar/pelatihan dihadiri
oleh 50-100 orang peserta, sedangkan fokusnya tergantung pada keahlian yang
menjadi sorotan berbagai perusahaan karena dianggap kurang dimiliki pencari
kerja.
Yang
sering ditekankan dalam pelatihan adalah keterampilan sosial seperti kerja sama
tim dan kepemimpinan. Dalam beberapa kasus, perusahaan mengadakan pelatihan
sebagai bagian dari proses perekrutan sehingga para peserta yang berhasil lulus
dan memenuhi syarat akan direkrut. Kebanyakan pelatihan diberikan cuma-cuma
kepada anggota CDC UI, tetapi non-anggota juga dapat mengikuti pelatihan dengan
membayar. (Sumber: Laporan Bank Dunia, 2010).
2. Penciptaan
Lapangan Kerja
Menurut
Muhaimin untuk mengatasi pengangguran dibutuhkan penciptaan kesempatan kerja
yang banyak dan berkualitas, terutama pekerja formal harus diupayakan, serta
perlindungan dan kesejahteraan pekerja yang dapat menjamin ketentraman pekerja
beserta keluarganya. "Untuk dapat mencapai target-target tersebut,
diperlukan kerja keras dari seluruh instansi pemerintah, baik pusat maupun
daerah, serta swasta.”
Hal-hal yang
perlu dilakukan pemerintah adalah membangun infrastruktur ekonomi seperti
listrik, jalan-jalan produksi, sehingga menarik minat investor untuk melakukan
investasi.
3. Pelatihan
Tenaga Kerja
Pelatihan
tenaga kerja dilakukan kepada kepada mereka yang belum
memiliki lapangan pekerjaan. Pelatihan tenaga kerja
ini berupa keterampilan teknis maupun
kewirausahaan (enterpreunership), baik yang dilakukan oleh lembaga pemerintah
maupun swasta. Hal ini seperti
yang dilakukan oleh Balai Latihan Kerja guna memberikan keterampilan kepada
angkatan kerja terutama untuk menciptakan lapangan pekerjaan seperti
perbengkelan, keterampilan menjahit, dll.
Seperti yang dikuti TEMPO.CO, Jakarta ( 24 April 2012)
bahwa Sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih kurang kompeten.
Catatan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menunjukkan, saat ini
terdapat 81,1 juta orang tenaga kerja kurang kompeten dan hanya terdapat 20,4
juta tenaga kerja kompeten. Melihat kondisi tersebut, Kadin akan membentuk
Kadin Training Center yang bertujuan meningkatkan kompetensi pekerja industri
di Indonesia.
4. Cara lain adalah dengan
menggadakan studi banding dengan model keberhasilanpelatihan di negara lain
spserti yang direkomendasikan oleh Bank Dunia
bahwa di Kolombia ada satu program pelatihan yang
bernama Programa
Jóvenes en Acción. Dari evaluasi
terhadap program Jovenes en Acción memperlihatkan hasil mengesankan berikut ini; Tingkat lapangan kerja yang
lebih tinggi: Bagi perempuan, pelatihan telah meningkatkan peluang mereka untuk memperoleh
pekerjaan, lamanya hari dan jam bekerja, serta peluang untuk memperoleh
pekerjaan dengan kontrak
tertulis Dampak yang serupa, namun lebih terbatas juga dirasakan laki-laki. Kenaikan upah; Dampak yang paling
signifikan dari program ini adalah peningkatan besar pada upah: upah perempuan meningkat
35 persen, sementara upah laki-laki meningkat 18 persen; Hemat biaya: Program ini
menciptakan perolehan bersih yang besar, terutama bagi perempuan. Bahkan dengan menggunakan
perhitungan efektivitas biaya yang paling konservatif sekalipun, ada isyarat
bahwa manfaat bersih dari
program ini lebih dari cukup untuk menjustifikasi pelaksanaannya dan
kemungkinan perluasannya. Tingkat
pengembalian investasi (IRR) terendah adalah 13,5% untuk perempuan dan 4,5%
untuk laki-laki. Sumber: Attanasio,
Orazio, Adriana Kugler, dan Costas Meghir. 2007.
Program Jóvenes ini memberikan pelatihan bagi
kaum muda dan miskin dalam hal keahlian profesi dan keterampilan hidup yang disusul
dengan magang di tempat kerja. Didasarkan pada proyek percontohan di Cile pada
awal 90-an, pelatihan dengan
pendekatan menyeluruh ini telah menyebar ke seluruh kawasan Amerika Latin dan
masingmasing negara menyesuaikan program dengan kebutuhannya. Kaum muda yang mengalami
ketertinggalan diidentifikasi dengan
cara-cara seperti statistik pengangguran, data sosioekonomi, dan pemetaan
kemiskinan.
Perusahaan swasta, LSM, lembaga publik, dan lembaga pelatihan
non-formal yang memenuhi persyaratan berkompetisi untuk memberikan pelatihan. Penyedia pelatihan
diharuskan untuk mengatur magang bagi peserta pelatihan dan memastikan
keahlian seperti apa yang dibutuhkan pemberi kerja lokal sebelum menerima dana
untuk mengadakan pelatihan.
Dengan cara ini, kegiatan magang akan memberikan informasi mengenai keahlian
yang sedang dibutuhkan.
Pelatihan keterampilan hidup secara intensif berfokus terutama pada keahlian memecahkan masalah, perilaku
tempat kerja yang benar, mengelola konflik, teknik pencarian kerja, dan
membangun kepercayaan diri.
Programa Jóvenes en Acción. Uji coba versi Kolombia dari program
ini dimulai pada bulan Mei 2001 dengan menawarkan kursus pelatihan pekerjaan bagi 100.000 laki-laki dan
perempuan yang menganggur dan menempati dua tingkat pendapatan terendah. Program dilaksanakan di tujuh
kota dengan investasi keseluruhan senilai 17,6 juta dolar Amerika. Program
pelatihan ini adalah bagian dari Jaringan Dukungan Sosial (Red de Apoyo Social)
yang juga mencakup
pekerjaan umum secara darurat untuk menciptakan penghasilan dan pendidikan
keluarga serta tunjangan kesehatan
untuk keluarga pedesaan miskin. Kaum muda berusia antara 18 dan 25 tahun menerima tunjangan dan voucher
pelatihan yang dapat mereka gunakan untuk mendaftar pada kursus pelatihan
pilihan mereka dari daftar
penyedia pelatihan yang dipilih secara kompetitif. Pelatihan pekerjaan
berlangsung sekitar tiga bulan dan diikuti dengan magang tiga bulan di sebuah
perusahaan atau organisasi. Penerima manfaat juga menerima tunjangan makan dan
transportasi. Program ini dikelola oleh kelompok yang terdiri atas lembaga pemerintah,
organisasi nirlaba, dan perusahaan swasta. (Sumber
: Laporan Bank Dunia 2010).
5. Pinjaman Modal Kerja dan
Pendampingan
Guna menciptakan lapangan kerja maka pemerintah
diharapkan dapat memberikan pinjaman modal dengan bunga rendah. Program Kredit
Usaha Rakyat (KUR) dan Simpan Pinjam dari PNPM Mandiri Perdesaan merupakan beberapa
contoh upaya pemerintah dalam membantu mendorong masyarakat untuk membuka
lapangan kerja agar bisa menyerap tenaga kerja. Namun pinjaman modal itu harus
dibarengi dengan pendampingan tenaga ahli, supaya pengelolaannya tertata dengan
baik.
Daftar Referensi
Bank
Dunia 2010.Laporan Ketenaga Kerjaan Indonesia. Menuju terciptanya pekerjaan lebih baik dan jaminan perlindungan bagi para pekerja.
TEMPO.CO, Jakarta ( 24 April 2012).
http://www.jpnn.com, 14 Februari 2011