KETIKA “TERANG” LAGI
BERSINAR
Terang seperti anak kebanyakan, dengan sifat riangnya dengan mudah dapat
bergaul dengan siapa saja teman sebanyanya, meski itu baru pertama kali kenalan.
Kala itu Terang baru berusia 6 tahun sudah duduk dibangku sekolah dasar
bersama anak saya Rama yang pada waktu itu berumur 5 tahun 9 bulan.
Terang memang tergolong anak yang
cerdas karena dia bisa diterima di Sekolah
Dasar meski baru berusai 5 tahun, yang seharusnya anak seusia dia masih berada
di Taman Kanak-Kanak. Kehidupan keluarga Terang kurang lebih hamper sama dengan
kami, bedanya kedua orang tua Terang bekerja di perusahaan yang bonafit meski hanya
pegawai rendahan, sementara aku
bekerja sebagai sopir angkot dengan penghasilan tak menentu.
Kedua orang tuanya sangat sayang
terhadap Terang, apapun yang
diminta olehnya selalu dibelikan meski itu
dengan utang terlebih dahulu. Rama anak saya selalu berkunjung kerumah
Terang, karena tertarik dengan mainan-mainan Terang yang bagus-bagus, pergaulan
mereka masih layaknya anak – anak kebanyakan yang penuh keceriaan dan canda
tawa, orang tua Terang pun tidak masalah dengan kedatangan Rama dirumah mereka.
Disamping karena Rama anaknya juga sopan, Rama juga mau disuruh oleh mereka
untuk membantu mereka, misal membelikan apa yang mereka
butuhkan di warung tetangga dekat rumah.
Seiring dengan perjalanan waktu,
ayah dan ibu Terang yang bekerja di perusahaan yang sama, perusahaan
mereka membuka cabang, oleh bos mereka menugaskan ayah Terang untuk ikut pindah
disana, kebetulan lokasi perusahaannya berbatasan kabupaten dengan tempatnya
saat ini, jadi perjalanannya pun masih bisa ditempuh dengan angkutan darat.
Dalam perjalanan karir ayah
Terang, cukup cemerlang dan akhirnya ayah Terang pun mendapat promosi jabatan,
kabar itu pun langsung tersiar diseluruh penjuru RT 001/RW 03 tempat kami
tinggal. Hari demi hari karirnya semakin melejit, keadaan ekonomi mereka pun semakin membaik,
dan Terang pun semakin manja dengan
berbagai fasilitas yang terus diberikan padanya, sehingga terkadang si Rama
anak saya bertanya ‘papa mengapa kita tidak seperti mereka ya’. Aku pun hanya
mencoba menghibur anak saya Rama “nak kita harus bersyukur masih bisa kita
makan, kita kaya seperti keluarga Terang
itu juga ujian, sabar ya nanti kita usaha” tapi dalam hati saya ya usaha
apalagi sekolah ngak punya namun harapan itu masih tetap ada.
Gelimang harta yang mereka
peroleh ternyata, membuat mereka lupa, akan masa lalu mereka, yang tadinya
selalu ramah dengan tetangga jadinya cuek dan terkesan tertutup, tidak mau lagi
berbagi seperti dulu masih seperti kami. Rama pun yang berkunjung mulai sering
mendapat perlakuan kasar dari ibu
Terang. Mungkin karena sering melihat ibunya mengusir si Rama, Terang pun mulai
ikut-ikutan memperlakukan Rama dengan kasarnya sehingga tidak jarang Rama
pulang dengan tangisnya yang membuat istri saya
Mala terkadang terbawa emosi ingin marah dan berkelahi dengan orang tua
Terang, namun aku selalu menasehati “ anak-anak ko diambil hati” awalnya istri saya tidak menerima dan terkadang muncul
kata-kata hardikan darinya “ dasar baru kaya”. Akupun mendengar itu terkadang
tersenyum saja, dalam hati berdoa mudah-mudahan istri saya selalu menyadari hal itu agar tidak terjadi
pertengkaran dengan tetangga.
Kehidupan semakin miris dengan
rusaknya angkot yang saya bawa, bosku bilang akan dibelikan gantinya namun
belum juga ada karena bos saya ternyata lagi terkendala juga dalam masalah
keuangan, kerena istrinya yang suka
menghambur-hambur uang dengan foya-foya. Kami pu sekeluarga semakin dihinanya
oleh mereka.
Karir ayah Terang semakin
gemilang, namun tidak segemilang prestasi anaknya Terang, namun keangkuhanlah
yang menghiasi Terang dan semakin menjadi-jadi. Perlakuan kasar Terang
terhadap Rama pun bukan hanya dirumah
atau dilingkungan kami saja, tapi juga sampai di sekolahan mereka, karena mereka
satu sekolah hanya beda kelas aja kebetulan Rama sekarang sudah mulai
berprestasi sehingga duduk dikelas yang lebih unggul dari Terang, yang terkadang membuat Rama jadi
ilfil juga tapi sering kuberi motivasi “ hari ini dia kasari kamu besok setelah
kamu jadi orang berhasil belum tentu” kata ku Rama pun sering bertanya oh gitu
ya papa, gimana supaya kita bisa jadi orang berhasil, akupun hanya menjawab
dengan polosnya “ya jadi orang baik dan
belajar”.
Waktu pun terus berputar, Terang dan Rama pun telah berhasil menyelesaikan Ujian Akhir
Nasional (UAN), Rama dengan hasil yang sangat memuaskan sedangkan Terang hanya
memenuhi standar aja. Alhamdulilah, kata itulah yang terucap dari bibir saya
ketika Rama anak saya diterima di sekolah faforit idaman anak saya Rama, namun
kegembiraan itu sirna seketika pada saat Rama bilang Terang juga lulus keterima
disana, akun heran kok bisa ya. Akupun berusaha menghibur Rama sabar ya orang
curang jauh dari kebehasilan, Rama pun bertanya curang gimana ya papa, akun tidak bisa menjawabnya takut aku berdosa
karena aku tidak tahun persoalannya secara pasti, hanya ku menjawabnya nanti
deh papa beri tahu lain kali ya.
Aktivitas sekolah pun mulai, Rama
dengan angkot menjadi teman setianya pulang dan pergi dengan bahagianya,
sedangkan terang yang awalnya sering
diantar oleh ibunya dengan mobil, belakangan terlihat Terang berangkat dengan
motor sendirinya. Memang lokasi sekolah dengan lingkungan kami tinggal
hanya sekitar 2 kilometeranlah tapi kan
itu berbahaya anak dibawah umur sudah bawa kendaraan sendiri, kembali lagi
terketus dalam hati ah itu kan urusan orang tua dia.
Setelah tiga bulan sekolah mulai
tersiar kabar, Terang sering pulang mabok dilingkungan, orang tua Terang pun
secara bergantian mendapat panggilan dari Sekolah, namun karena orang tua
Terang dihormati karena kaya masih diberi toleransi, sampai pada suatu hari
Terang pun terlibat Tawuran yang
menyebabkan nyawa salah seorang siswa
pada sekolah lain melayang sia-sia. Terang
jadi buronan polisi karena diduga dialah pelaku pembunuhan
tersebut. … untuk kisah selanjutnya ikuti dalam “Ketika Terang Tiada dan Kembali Lagi”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar