Mungkin istilah inilah tepat bagi diri saya selama ini, perasaan senang dengan keadaan posisi saya saat ini, keadaan ini yang biasa orang menyebutnya "sudah betah dengan keadaannya" atau dalam bahasa asingnya dikenal dengan istilah " I am my position". Mungkin juga tidak sepenuhnya benar, karena saya pun masih terus membaca dan menulis namun tidak ada bukti yang terpublikasi bahwa itu adalah hasil karya saya, meminjam istilah Kang Dedi Dwitagama, penulis dan salah seorang kepala sekolah berprestasi di Jakarta, kondisi ini disebutnya kurang berimbang karena membaca itu merupakan kegiatan mengisi terus tanpa mengeluarkan alias berbagi melalui tulisan yang dipublikasi.
Pola prilaku seperti ini mungkin dengan cepat didorong untuk mengikuti perkembangan yang ada, dengan sentuhan motivasi sedikit saja perubahan bisa jadi dengan cepat terjadi, namun dibelahan lain ada kasus lain yang lebih pelik terhadap teman-teman guru yang sudah enjoy dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa upgrade wawasan baik itu membaca lebih-lebih menulis.
Pertanyaannya, sepelik itukah persoalannya? Menurut saya ia karena merujuk pada data yang ada, sekitar 334.184 orang guru yang mentok kenaikan pangkatnya pada golongan IV. a, dan yang ada pada rentang golongan III. a sampai III d., adalah sebanyak 996.926 orang (sumber :http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/19/), dan ini berpotensi juga untuk mentok jika tidak mampu memenuhi prasyarat kenaikan pangkat yang telah ditetapkan dalam PermenPANRB No. 16 Tahun 2009 tanggal 10 November 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, yang dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010
dan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 6 Mei 2010 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. (Sumber :http://tunas63.wordpress.com/2010/08/01/aturan-baru-2010) dan yang lebih mengharukan ternyata pada tahun lebih banyak lagi yang tertahan kenaikan pangkatnya di Kemendikbud yaitu sebanyak 600.000 orang guru, usulan keanikan pangkatnya tertahan kata Sulistiyo Ketua PB PGRI (Sumber:http://cpnsindonesia.com/600-000-). Hal ini menunjukkan bahwa guru yang sudah berada pada golongan IV a. tersebut tidak mampu memenuhi persyaratan kenaikan pangkat tersebut, yaitu karya tulis ilmiah yang baik, dengan sulitnya persyaratan ini akan menimbulkan pemikiran negatif berupa kolusi mulai dari pembuatan hingga pengusulan yang akan membawa dampak negatif berupa jalan pintas bagi guru yang tidak terbiasa membuat karya tulis ilmiah, hal seperti yang dikemukakan oleh PB PGRI Sulistyo, bahwa dengan sulitnya pemenuhan angak kredit akan berdampak negatif, seperti kasus di Pekanbaru, Batam dan Yogyakarta yang mau menghargai kredit poin angka kredit palsu dengan kisaran 3 juta hingga 5 jutaan rupiah (Sumber:http://cpnsindonesia.com/600-000-), dan yang lebih menyayat hati khususnya di Kota Kendari, menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Kendari bahwa ternyata masih banyak guru yang belum paham dengan IT, hal terbukti pada saat pelaksanaan Uji Kompetensi masih banyak guru yang tidak mengerti dengan internet (Sumber: Sultra-Online.com) hal ini senada dengan yang dikemukakan om Wijaya Kusumah dalam bukunya TIK: Menulis Blog Untuk Pendidikan pada halaman 46 om Jay berkisah bahwa pada tanggal 19 Oktober 2010 pukul 08.00 s.d. 10.00 sekolahnya om Jay yaitu Labschool, menjadi tuan rumah pelaksanaan tes online guru dan ternyata betapa kagetnya om Jay mendapati bahwa masih banyak guru tidak melek IT buktinya menurut Om Jay pasword saja mereka dalam hal ini peserta tes tesebut masih harus bertanya mengapa yang muncul bintang-bintang bukan angka.
Pertanyaannya kemudian mengapa hal ini terjadi, apakah selama ini tidak ada informasi tentang menulis, atau IT tersebut? Menurut saya sebenarnya tidak, mereka sudah mendengar, bahkan mereka mungkin menyaksikan anak-anak mereka sendiri di rumah atau di sekolah, namun faktor terlanjur senang dengan keadaan yang dimiliki, terlebih tidak ada tuntutan yang punya konsekuen dari pemberi kerja yaitu pemerintah, sehingga problem ini bisa menjadi bom waktu yang menurut saya sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda mau meledak, terbukti dengan tidak bisa menulis dan bekerja dengan internet para guru akan mengalami masalah besar terutama dalam mempertahankan tunjangan sertifikasinya termasuk persyaratan kenaikan pangkat yang akan diberlakukan mulai dari pengurusan kenaikan pangkat III b dan ini berat bagi yang belum terbiasa. Dan saya bersyukur saya mengikuti pelatihan "Guru Menulis" yang diadakan IGI dan disponsori oleh ACER dan Kompasiana. Paling tidak ada energi baru yang masuk dalam roh saya.
Fenomena gunung es tentang rendahnya kemampuan baca, tulis dan IT para pahlawan tanpa tanda jasa yang pada era reformasi sudah berubah menjadi pembangun insan cendekia alias guru, fenomena gunung es itu sebelum cair dan membanjiri kita semua, perlu ada solusi.
Saudaraku sependeritaan, apakah kita hanya membiarkan informasi baik itu informasi kebijakan ataupun tentang teknologi kita mebiarkannya lewat dari gendang telinga kiri keluar melewati gendang telinga kanan, haruskah kita sampai terlindas? baru oh..., inilah yang sering lewat digendang telinga saya.
Saudaraku semisi, bukankah kita ingin mencerdaskan kehidupan anak bangsa, tapi mengapa kita tidak ingin diri kita untuk menjadi contoh dalam berkarya.
Saudaraku seprofesi, kita harus bangga karena pada prinsipnya profesi di dunia ini hanya dua yang pertama guru dan yang kedua bukan guru, bukankah demikian?
Jadi marilah kita update diri kita, bukankah kita sudah diberi lebih oleh pemberi kerja (pemerintah), agar kita lebih bermutu, dengan segudang ilmu baru yang didukung teknologi yang cangih saat ini, tapi, ...mungkin itu semua belum terlaksana oleh kita atau mungkin sudah ada dibenak bahkan sudah ada dalam rencana tapi karena prinsip "I am my position" sehingga kita merasa keenakkan dalan status yang kita miliki saat ini.
Saya dan Saudaraku mari kita mulai dengan hal yang kecil, asal dengan komitment dan keyakinan " three in one" (satu lembar dibaca, satu paragraf diketik, 1 kali ngenet dalam sehari) insa allah akan jadi satu "kebiasaan". Dan saya berkeyakinan jika itu dengan komitment kita akan jadi guru bukannya sekedar memenuhi tuntutan tugas atau kewajiban tapi kita akan menjadi profesional seperti yang diinginkan oleh si pemberi kerja yakni pemerintah dan masyarakat secara luas, mengapa tidak karena kita pasti akan banyak tahu karena kita sudah terbiasa dengan membaca dan menulis serta kita familiar dengan sumber informasi yaitu teknologi internet. Seperti slogan yang dikemukakan oleh Kang Ukim Penulis buku "Guru juga Manusia" bahwa jika kita ingin mengenal dunia maka banyaklah membaca, jika kita ingin dikenal dunia banyaklah menulis.
Saya berharap guru bukan hanya untuk dikenal saja tapi memang benar-benar sadar bahwa menulis kenangan dan informasi saat ini sangat berguna untuk anak cucu kita kemudian, karena jika kita tidak menulisnya kata Iwan Setiawan, kenangan itu akan hilang. Jadi marilah kita wahai saudaraku guru dimana saja berada, bagi yang sudah menulis selamat saudarku telah mengumpulkan warisan untuk anak cucu kita, bagi yang belum mari kita mulai mengumpulkan puing harta karun kita alias tulisan kita yang berceceran dimana-mana dalam bentuk tulisan yang dapat dipublikasikan untuk modal anak cucu kita. Sebagai penutup Publikasi merupanakan penyempurna dari aktivitas petualangan kita dalam membaca dan menulis, karena dengan berbagi melalui media internet saat ini update informasi dan pengetahuan akan sangat mudah dan paling mobile. Berbagilah, sesungguhnya berbagi itu akan semakin menambah wawasan anda, karena sesungguh jika kita sudah mendapatkan Reinforsing dalam BATUNET (Baca, Tulis dan nge-Net) kita akan semakin memperbanyak referensi kita. Jayalah guru Indonesia, jadilah "guru era baru " GURARU" seperti yang digagas oleh ACER dan Jadilah guru paling Ngeblok seperti yang digagas oleh Kompasian, tidak ada jalan lain selain Iqro bukankah dalam Al - Qur'an bagi yang beragama Islam kita diperintahkan untuk itu. Jadi sekali lagi diera informasi dan teknology yang dibingkai dengan globalisasi ini bukan kita menghindar dari dampaknya tapi kita atasi dampaknya dengan BATUNET (baca,tulis,ngenet). Jika tidak maka kita bagaikan sang pendekar yang dikerangkeng karena kita merasa hebat, jago dengan kemampuan kita, tapi sesungguhnya kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan kita. Semoga kita jadi Pendekar yang bebas, dengan tulisan yang kita punyai, seperti kata Iwan Setiawan, bahwa aku menulis karena menulis membebaskanku.
Referensi
Andayani.Dwi Juli. 2006.Learning Organisasi Sebagai Strategi Perubahan Sekolah X. Jakarta. FISIP UI.
Kusumah.Wijaya. 2012. TIK: Menulis Blog untuk Pendidikan. Jakarta.Indeks.
http://tunas63.wordpress.com/2010/08/01/aturan-baru-2010-kenaikan-pangkat-guru/
http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/19/inilah-alasan-mengapa-guru-tidak-melakukan-penelitian/
http://cpnsindonesia.com/600-000-usulan-kenaikan-pangkat-guru-tertahan.html
3 komentar:
selain yang djelaskan, sebetulnya masih ada faktor lain yang membuat guru jadul sulit naik ke IV.b, bukan hanya kemampuan menulis, tetapi ada kebijakan kenaikan yang tidak jelas implementasinya, nyatanya banyak yang jago menulis tapi tetap saja tidak naik pangkat, tetapi ada kasus sebaliknya.
motivasi dari segi kenikan gaji yang mengikuti kenaikan golongan juga rendah. perlu ada kajian relevansi kemampuan menulis guru dengan kinerjanya..coba kita cek datanya, yang bisa keempat B itu sebagian besar adalah kepala sekolah, ambil data dari daerah jangan dari jabotabek...
kalau kebijakannya sudah baiklah,mungkin pak nurdin maksud oknom pelaksanan kebijakan yang mengimplementasikan kebijakan yang .... tapi kan yang diminta oleh tim angka kredit itu tulisan yang sudah terakreditasi, alias sudah terpublikasi,misal makalah sudah pernah diseminarkan kita kan semua jago menulis tapi untuk diri sendiri, sehingga itu yang menjadi sulit, karena kita tidak mempublikasikan tulisan kita
Kalau Pak Nurdin, sudah termasuk kategori pemberi inspirasi dengan tulisannya, tapi masih banyak teman lainya yang belum memulai, dan ternyata tulisan akan lebih bernilai jika kita publikasi terutama di jurnal terakreditasi, saya mau mencoba itu kalau Pak Nurdin punya canel bagi ya
Posting Komentar